iklan

Showing posts with label HEALTHY LIFE. Show all posts
Showing posts with label HEALTHY LIFE. Show all posts

4.2.10

Studi : Makin Tua, Kebutuhan Tidur Menurun



WASHINGTON, KOMPAS.com - Seiring dengan bertambahnya usia, kebutuhan tidur seseorang realtuf semakin menurun. Menurut sebuahe penelitian, orang dewasa sehat butuh tidur lebih sedikit dibanding orang muda. Sekalipun pada malam harinya kurang tidur, mereka menghadapi kemungkinan lebih kecil untuk merasa lelah selama siang hari.

Seperti dilaporkan jurnal Sleep yang diterbitkan American Academy of Sleep Medicine dan "Sleep Research Society, waktu delapan jam yang dihabiskan untuk tidur terus mengalami penurunan yang mencolok seiring bertambahnya usia.

Menurut hasil penelitian, orang dewasa tua usia 66-83 tahun, tidur selama 20 menit lebih sedikit dibanding dewasa setengah baya - 40-55 tahun yang tidur 23 menit lebih sedikit dibandingkan dewasa muda usia 20-30 tahun.

Orang dewasa tua sering terbangun dan menghabiskan lebih banyak waktu saat terjaga dibandingkan orang dewasa yang lebih muda. Tidur lelap yang diduga menjadi tahap tidur paling penting untuk memulihkan energi, menurun durasinya seiring pertambahan usia, kata studi itu.

Tetapi, kendati orang dewasa tua tidurnya kurang nyenyak dan kurang lengkap, dan tidur mereka terus-menerus berkurang dibanding orang yang lebih muda, mereka juga memperlihatkan penurunan kebutuhan tidur di siang hari.

Riset ini dilakukan di Clinical Research Centre di Universitas Surrey Inggris dan melibatkan 110 orang dewasa sehat tanpa gangguan atau keluhan tidur. Sebanyak 44 orang di antaranya masih berusia muda, 35 orang berusia setengah baya dan 31 orang dewasa tua.

Mereka diminta tidur normal untuk satu malam dan semalam berikutnya untuk pengukuran (baseline). Lalu untuk dua malam berikutnya, tidur mereka diganggu dan diikuti dengan satu malam untuk pemulihan.

Selama malam baseline, orang dewasa muda menghabiskan tidur rata-rata 433,5 menit. Orang dewasa usia setengah baya butuh 410 menit dan orang dewasa lebih tua selama 390 menit.

Pada malam yang sama, orang dewasa lebih muda menghabiskan 118,4 menit untuk tidur pulas, dibandingkan dengan 85,3 menit bagi orang dewasa yang berusia setengah baya dan 84,2 menit buat orang dewasa yang lebih muda.

Namun ketika diminta berbaring pada posisi yang nyaman di ranjang selama siang hari dan berusaha tidur, orang dewasa muda tertidur dalam waktu rata-rata 8,7 menit, dibandingkan dengan hampir 12 menit yang diperlukan oleh orang dewasa usia setengah baya dan hanya lebih dari 14 menit bagi orang dewasa yang lebih tua.

18.11.09

Ibu Hamil, Ayo Cermati Kondisi Gusi!



Saat hamil, tidak hanya kesehatan tubuh dan janin saja yang perlu diperhatikan, tapi juga gusi. Hasil riset membuktikan, penyakit gusi pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah.

KOMPAS.com - Saat hamil, tidak hanya kesehatan tubuh dan janin saja yang perlu diperhatikan, tapi juga gusi. Hasil riset membuktikan, penyakit gusi pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah.

Perubahan hormon yang terjadi saat hamil berpengaruh besar terhadap kesehatan gigi dan mulut, termasuk gusi. Perubahan hormon ini menyebabkan terjadinya perlunakan pembuluh darah gusi sehingga bisa menimbulkan peradangan pada gusi. Masalah lain adalah pembengkakan pada gusi (epulis gravidarum) yang terjadi di gusi di antara dua gigi.

Menurut dr.Boy Abidin, Sp.OG, gusi berdarah merupakan tanda adanya masalah pada gusi. "Gusi berdarah adalah tanda pecahnya pembuluh darah. Ini bisa jadi pintu masuknya kuman, karena itu segera lakukan perawatan ke dokter gigi," kata dokter yang berpraktik di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta ini.

Bila tidak ditangani peradangan gusi bisa menyebabkan bakteri masuk ke pembuluh darah dan pada ibu hamil bisa menyebabkan bayi terlahir prematur atau lahir dengan berat badan kurang. "Kuman yang tersimpan di dalam plak akan masuk ke gusi dan menyebabkan infeksi. Hal ini bisa menyebabkan reaksi sistem imun dan prostaglandin yang memicu timbulnya kontraksi. Akibatnya bayi lahir prematur," papar Boy Abidin.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Periodontology tahun 1996 juga menyebutkan ibu hamil yang memiliki masalah gusi memiliki risiko tujuh kali lebih tinggi memiliki bayi prematur dan berat badan rendah. "Pembengkakan gusi juga bisa memengaruhi aliran darah ke plasenta yang membawa makanan bayi sehingga bayi lahir dengan berat rendah," tambah Boy.

Selain pengaruh hormonal yang dialami pada kelompok ibu hamil, wanita haid dan menopause, menurut drg. Yulia Rachma Sp.Perio, penyakit gusi (ginggivitis) juga bisa terjadi akibat cara menyikat gigi yang salah, tekanan pada gusi, serta kebiasaan merokok.

"Ginggivitis yang tidak ditangani bisa menjadi periodontitis atau kerusakan jaringan gigi yang ditandai dengan gusi bengkak, berdarah, serta gusi turun," kata Yulia. Selain gusi, tulang yang yang menjadi landasan gigi pun menjadi rentan terhadap infeksi. "Pada kondisi ini, kedudukan gigi menjadi goyang bahkan lepas meski giginya sehat," katanya.

Untuk menghindari penyakit gigi dan gusi, baik Yulia dan Boy menyarankan agar ibu hamil rajin menyikat giginya, minimal dua kali sehari, mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, serta melakukan pemeriksaan gigi ke dokter gigi bila mengalami gusi berdarah. "Meski sering merasa mual, sebaiknya tetap sikat gigi dengan pasta gigi," kata Boy.

AN

Editor: acandra