iklan

Showing posts with label JOMBANG TODAY'S. Show all posts
Showing posts with label JOMBANG TODAY'S. Show all posts

30.4.12

Pernyataan Sikap MayDay (HAri Buruh 1 Mei) 2012

sejarah MAY DAY (Hari Buruh 1 Mei)



UMK Jombang 2012 Bergolak

UMK singkatan dari Upah Minimum Kabupaten/Kota.
Untuk daerah Jawa TImur akhirnya sudah ditetapkan pada tanggal 18 November 2011 yang lalu. Kenaikan rata-rata adalah sekitar 8 persen.

Banyak yang bilang dengan kenaikan segitu, masih belum cukup untuk memenuhi Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

Berikut ini data UMK untuk wilayah Jawa Timur.

KOTA/Kab UMK KHL
Kota Surabaya 1.257.000 1.257.000
Kota Malang 1.132.254 1.096.066
Kota Batu 1.100.251 1.100.215
Kab. Gresik 1.257.000 1.257.000
Kab. Malang 1.130.500 1.089.295
Kota Kediri 1.037.500 1.037.000
Kab. Sidoarjo 1.252.000 1.249.978
Kota Mojokerto 875.000 918.036
Kab. Tuban 970.000 1.252.389
Kab. Mojokerto 1.234.000 1.234.000
Kab. Probolinggo888.500 974.320
Kab. Kediri 999.000 1.000.500
Kab. Pasuruan 1.252.000 1.242.394
Kab. Pasuruan 975.000 975.000
Kota Pasuruan 975.000 975.000
Kab. Pamekasan 975.000 1.112.980
Kab. Lamongan 950.000 950.000
Kab. Jember 920.000 920.947
Kab. Bojonegoro 930.000 940.500
Kab. Jombang 978.200 1.022.259
Kab. Banyuwangi 915.000 948.000
Kab. Bangkalan 885.000 882.470
Kota Probolinggo885.000 967.181
Kab. Sumenep 825.000 894.231
Kab. Blitar 820.000 855.083
Kota Madiun 812.500 892.804
Kab. Lumajang 825.391 907.023
Kota Blitar 815.000 850.000
Kab. Bondowoso 800.000 806.692
Kab. Situbondo 802.500 874.914
Kab. Ngawi 780.000 799.960
Kab. Sampang 800.000 1.031.809
Kab. Tulungagung815.000 871.132
Kab. Madiun 775.000 791.714
Kab. Trenggalek 760.000 778.426
Kab. Nganjuk 785.000 824.703
Kab. Pacitan 750.000 771.324
Kab. Magetan 750.000 765.135
Kab. Ponorogo 745.000 762.514

Itulah tadi Upah Minimum para pekerja di tahun 2012 yang akan datang.
UMR atau UMK pada intinya adalah sama, yaitu gaji minimum yang diterima oleh karyawan tiap bulannya.

19.5.11

Syi’ir Tanpo Waton, Gusdur Almaghfur lah



Ngawiti ingsun nglaras syingiran
Kelawan muji maring pengeran
Kang paring rohmat lan kanikmatan
Rino wengine tanpo pitungan

Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syariat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro

Akeh kang apal Quran Hadise
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepahese gebyareng dunyo
Iri lan meri sugieh tonggo
Mulo atine peteng lan nisto

Ayuh sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sa'pranatane
nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine

Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan sari ngelmune
Laku torikot lan ma'rifate
Ugo hakikot manjing rasane

Al Quran Qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangan gusu waskito
Den tanjebake ing jero dodo

Kumantil ati lan pikiran
Ngrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu'jizat rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Alloh kang moho suci
Butuh rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadlohi
Dzikir lan suluk jog nganti lali

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo nadjan pas-pasan
Kabeh dinakdir saking pengeran

Kelawan konco dulur lan tonggo
Podo rukuno
Iku sunnaeh rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito

Ayuh ngelakoni sekabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senadjan asor toto dzohire
Ananging mulyo makom drajate

Lamon palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh suwargo manggone
Utuh mayite ugo ulese

27.3.10

Wah... Presiden Mau Antri Beli Tiket Arema-Persitara



MALANG, KOMPAS.com- Untuk menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkait Kongres Sepakbola Nasional, seluruh warga Kota Malang, Jawa Timur, diwajibkan untuk mengibarkan Bendera Merah Putih satu tiang selama empat hari.

Kepala Bakesbangpolinmas Kota Malang Joko Yuwono, Sabtu (27/3/2010), mengatakan, pengibaran sang Merah Putih itu berlaku tanggal 29 Maret-1 April 2010 mulai pukul 06.00 WIB.

"Pengibaran bendera Merah Putih ini semata-mata sebagai wujud penghormatan masyarakat Malang kepada presiden yang telah memilih daerah ini sebagai tempat Kongres Sepak Bola Nasional (KSN)," ucapnya menjelaskan.

Ia mengemukakan, pihaknya telah menyosialisasikan kewajiban memasang bendera satu tiang penuh selama empat hari itu krpada seluruh kelurahan untuk disampaikan pada warga masing-masing, namun Bakesbangpolinmas juga melakukan sosialisasi secara langsung pada masyarakat.

Selain diwajibkan memasang bendera Merah Putih, warga Malang juga diimbau untuk memasang umbul-umbul di sepanjang jalan protokol yang kemungkinan dilewati presiden, karena presiden juga dijadwalkan berkunjung ke Kota Batu dan ke Stadion Kanjuruhan Kepanjen di Kabupaten Malang.

Menurut Joko, Presiden SBY berada di Malang selama dua hari (Senin-Selasa, 29-30/3). Selain membuka acara KSN di GOR Ken Arok, Presiden juga dijadwalkan untuk meresmikan Unit Reaksi Cepat (URC) Penaggungalan Bencana di Lanud Abd Saleh dan menonton langsung pertandingan Arema Indonesia bersus Persitara Jakarta Utara.

"Kami berharap, masyarakat Malang dengan sadar memasang bendera guna menyambut kedatangan presiden dan memeriahkan ’gawe’ besar nasional (KSN) ini," ujar Joko.

Kepala Humas Pemkot Malang M Yusuf mengatakan, berdasarkan informasi dari staf kepresidenan dan Kemnegpora, Presiden SBY ingin membeli tiket pertandingan Arema Indonesia yang menjamu Persitara Jakarta Utara secara langsung di loket dan antre seperti penonton lainnya.

"Kalau tiket untuk peserta KSN dan rombongan presiden dengan total jumlah sekitar 700 orang, tiketnya sudah dikoordinir. Namun, untuk Pak SBY katanya ingin beli tiket sendiri seperti penonton lainnya," katanya menambahkan.

10.2.10

KAIFIYAH SHOLAT LI DAF'IL BALA' (RABU WEKASAN)



Sholat Sunat Lidaf’il Bala Rabu Terakhir bulan Shofar pada tahun ini dilaksanakan pada tanggal 10 Pebruari 2010. dilaksanakan pada pagi hari setelah sholat Isyraq, Isti’adzah dan Istikharah.

Pelaksanaan sholat sunat Lidaf’il Bala diambil dari keterangan yang tercantum dalam kitab al-Jawahir al-Khomsi halaman 51-52. dilaksanakan pada pagi hari Rabu terakhir bulan Shofar, sebanyak 4 rakaat 2 kali salam. Niatnya :


Setiap rakaat ba’da fatihah membaca :
- Surat al-Kaustar 17 kali,
- Surat al-Ikhlash 5 kali,
- Surat al-Falaq dan an-Nas masing-masing 1 kali

Sebelum melaksanakan sholat membaca istighfar :

Abdi neda panghampura. Ka Gusti Allah nu Agung, Ka Gusti Allah nu Agung. Teu aya deui Pangeran. Anging Allah, Anging Allah, anu hurip anu jumeneng ku Anjeun. Abdi tobat ka Pangeran, Abdi tobat ka Pangeran, saperti abdi nganiaya. Teu ngamilik diri abdina pribadi. Teu ngamilik madhorotna. Teu ngamilik manfaatna. Teu ngamilik kana maotna. Teu ngamilik kana hirupna. Teu ngamilik pigelarna.
(Saya memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Saya mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tuhan yang hidup terus dan berdiri dengan sendiri-Nya. Saya mohon taubat selaku seorang hamba yang banyak berbuat dosa, yang tidak mempunyai daya upaya apa-apa untuk berbuat mudharat atau manfaat untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti.

Do’a setelah shalat lidaf’il Bala:

Artinya : “Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dengan kalimat-Mu yang sempurna dari angin merah dan penyakit yang besar di jiwa, daging, tulang dan urat. Maha Suci Engkau apabila memutuskan sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah” maka “jadilah ia”.

Sumber Website Ponpes Suryalaya

Rabu Wekasan (ANOTHER REVIEW)



Sudah menjadi tradisi di kalangan sebagian umat Islam terutama di masayarakat Islam Jawa merayakan Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan (Yogyakarta) atau Rebo Kasan (Sunda Banten) dengan berbagai cara. Ada yang merayakan dengan cara bersa-besaran, ada yang merayakan secara sederhana dengan membuat makanan yang kemudian dibagikan kepada orang-orang yang hadir, namun diawali dengan tahmid, takbir, zikir dan tahlil serta diakhir dengan do’a.

Ada juga yang merayakan dengan melakukan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, baik dilakukan sendiri-sendiri maupun secara berjamaah. Bahkan ada yang cukup merayakannya dengan jalan-jalan ke pantai untuk mandi dimaksudkan untuk menyucikan diri dari segala kesalahan dan dosa.

Waktu penulis masih kecil sekitar tahun 1960 an suka ikut-ikutan merayakan Rebo Wekasan yang dilakukan oleh para orang tua, yaitu dengan cara riungan pagi hari Rabu Wekasan sekitar jam 06.00 di masjid dengan membawa jamuan ketupat dan temannya ada ayam sayur, ayam goreng, ayam bakar dan lain-lain. Riuangan dipimpim oleh imam masjid dan diiringi dengan tahlil dan tahmid serta diakhir dengan do’a tolak bala. Dan setelah itu, jamuan tersebut dibagikan kepada peserta riungan untuk dimakan secara bersama-sama. Namun saat ini, kegiatan tersebut sudah tidak dilakukan lagi, akibat dari pergeseran nilai-nilai sosial di kalangan masyarakat setempat.

Apa yang dimaksud dengan “Rebo Wekasan” ?

Rebo Wekasan adalah hari Rabu yang terakhir pada bulan Shafar. Dari beberapa cara merayakan Rebo Wekasan ada yang mengganjal dalam pikiran penulis yaitu dengan cara melalukan shalat Rebo wekasan yang dikerjakan pada hari Rabu pagi akhir bulan Shafar setelah shalat Isyraq, kira-kira mulai masuk waktu Dhuha. Pada dasarnya Shalat Rebo Wekasan tidak ditemukan temukan adanya Hadits yang menerangkan shalat Rebo Wekasan.

Dalam Islam berbagai shalat baik wajib maupun sunnah telah disebutkan dalam Hadits Nabi saw secara lengkap yang termuat dalam berbagai kitab Hadits, namun shalat Rebo Wekasan tidak ditemukan. Shalat wajib atau shalat sunnah merupakan ibadah yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, baik tata cara mengerjakannya maupun waktunya. Tidak dibenarkan membuat atau menambah shalat baik wajib maupun sunnah dari yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibadah hanya dapat dilakukan sesuai dengan yang diperintahkan, jika tidak, maka sia-sia belaka.

Ada sebuah buku berjudul “Kanzun Najah” karangan Syekh Abdul Hamid Kudus yang pernah mengajar di Makkatul Mukaramah. Dalam buku tersebut diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah (sebutan ulama sufi tingkat tinggi), bahwa setiap hari Rabu di akhir bulan Shafar diturunkan ke bumi sebanyak 360.000 malapetaka dan 20.000 macam bencana. Bagi orang yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala pada hari tersebut sebanyak 4 raka’at satu kali salam atau 2 kali salam dan pada setiap raka’at setelah membaca surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Al Kautsar 17 kali, surat Al Ikhlas 5 kali, surat Al Falaq 2 kali dan surat An Nas 1 kali. Setelah selesai shalat dilanjutkan membaca do’a tolak bala, maka orang tersebut terbebas dari semua malapetaka dan bencana yang sangat dahsyat tersebut.

Atas dasar keterangan tersebut, maka shalat Rebo Wekasan tidak bersumber dari Hadits Nabi saw dan hanya bersumber pada pendapat ahli mukasyafah ulama sufi. Oleh sebab itu, mayoritas ulama mengatakan shalat Rebo Wekasan tidak dianjurkan dengan alasan tidak ada Hadits yang menerangkannya. Ada pula ulama yang membolehkan melakukan shalat Rebo Wekasan, dengan dalih melakukan shalat tersebut termasuk melakukan keutamaan amal (Fadhailul ‘amal).

Namun sikap yang baik terhadap shalat Rebo Wekasan adalah kembali kepada aturan bahwa semua ibadah didasarkan atas perintah. Sesuai dengan penjelasan yang telah diuraikan di atas, tidak ditemukan dasar perintah atau keterangan yang menjelaskan tentang shalat Rebo Wekasan atau shalat tolak bala, maka shalat Rebo Wekasan tidak perlu dilakukan. Bukankah semua shalat yang kita kerjakan baik wajib maupun sunnah dapat menolak bala? (aby)

Sumber http://bimasislam.depag.go.id/?mod=article&op=detail&klik=1&id=115

Amalan Rabu Terakhir di Bulan Shafar



Al-Imam`Abdul Hamid Quds (Mufti dan Imam Masjidil Haram) Dalam Kanzun Najah as-Suraar Fi Fadhail Al-Azmina Wash-Shuhaar

Bismillah hirrohman nirrohim

Banyak Awliya Allah yang mempunyai pengetahuan
spiritual yang tinggi mengatakan bahwa pada setiap
tahun, Allah menurunkan 320.000 macam bala bencana ke
bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu
terakhir di bulan Shafar, yang dikenal dengan Rabu
Wekasan. Oleh sebab itu hari tersebut menjadi hari
yang terberat di sepanjang tahun. Maka barangsiapa
yang melakukan shalat 4 rakaat (Nawafil, sunnah), di
mana setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat
al-Kautsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali, surat
al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali; lalu
setelah salam membaca do’a di bawah ini, maka Allah
dengan Kemurahan-Nya akan menjaga orang yang
bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di
hari itu sampai sempurna setahun.

Do`a tersebut adalah:
Bismilaahir rahmaanir rahiim
Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa
aalihi wa shahbihi wa sallam. Allaahumma yaa syadiidal
quwa wa yaa syadidal mihaal yaa ‘aziiza dzallat
li’izzatika jamii’u khalqika ikfinii min jamii’i
khalqika yaa muhsinu yaa mujammilu yaa mutafadh-dhilu
yaa mun’imu yaa mukrimu yaa man laa ilaaha illa anta
bi rahmatika yaa arhamar raahimiin

Allaahumma bisirril hasani wa akhiihi wa jaddihi wa
abiihi ikfinii syarra haadzal yawma wa maa yanzilu
fiihi yaa kaafii fasayakfiyukahumul-laahu wa
huwas-samii’ul ‘aliim. Wa hasbunallaahu wa ni’mal
wakiilu wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil
‘aliyyil ‘azhiim. Wa shallallaahu ta’aalaa ‘alaa
sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa
sallam

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa
tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad saw,
keluarga dan para sahabatnya.

Allahumma, Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan
dan Keupayaan; Ya Allah, Tuhan Yang Mahamulia dan
karena Kemuliaan-Mu itu, menjadi hinalah semua makhluk
ciptaan-Mu, peliharalah aku dari kejahatan makhluk-Mu;
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Baik Perbuatan-Nya; Ya
Allah, Tuhan Yang Memberi Keindahan, Keutamaan,
Kenikmatan dan Kemuliaan; Ya Allah, Tiada Tuhan
kecuali hanya Engkau dengan Rahmat-Mu Yang Maha
Penyayang.

Allaahumma, Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan
Sayyidina Hasan ra dan saudaranya (Sayyidina Husein
ra), serta kakeknya (Sayyidina Muhammad saw) dan
ayahnya (Sayyidina `Ali bin Abi Thalib ra),
peliharalah aku dari kejahatan hari ini dan kejahatan
yang akan turun padanya; Ya Allah, Tuhan Yang Maha
Memelihara, cukuplah Allah Yang Maha Memelihara lagi
Maha Mengetahui untuk memelihara segalanya. Cukuplah
Allah tempat kami bersandar; tiada daya dan upaya
kecuali atas izin Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha
Agung. Amin.

Dan Syaikh Albani ra berkata, “Sesungguhnya Allah
menurunkan bala bencana pada akhir Rabu bulan Shafar
(Wekasan) antara langit dan bumi. Bala bencana itu
diambil oleh malaikat yang ditugaskan untuknya dan
diserahkannya kepada Wali Qutub al-Ghawts, lalu wali
tersebut yang membagi-bagikannya ke seluruh alam
semesta; maka apa yang terjadi di muka bumi ini, baik
kematian, musibah atau kesulitan dan sebagainya adalah
bagian dari bala bencana yang dibagi-bagikan oleh Wali
Qutub tersebut. Barang siapa yang menginginkan
keselamatan dari hal-hal tersebut, hendaklah ia
melakukan shalat 6 rakaat, di mana setiap rakaat
setelah al-Fatiha dibaca ayatul Kursi dan surat
al-Ikhlash. Kemudian dilanjutkan dengan shalawat atas
Nabi saw dan membaca do’a berikut:

Bismillaahir rahmaanir rahiim
Allaahumma innii as-aluka bi asmaa-ikal husnaa wa
bikalimatikat-tammaati wa bi hurmati nabiyyika
muhammadin shallallaahu ‘alayhi wa aalihii wa sallama
an tahfazhanii wa antu’aa fiyanii min balaa-ika/Yaa
daafi’al balaayaa/yaa mufarrijal hamm/yaa kasyifal
ghamm/ iksyif ‘anni maa kutiba ‘alayya fii
hadzihis-sanati min hammin aw gham/innaka ‘alaa kulli
syay-in qadiir/wa shallalaahu ‘alaa sayyidinaa
muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallama
tasliima

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang Allaahumma, Ya Allah, sesungguhnya aku mohon
dengan kemuliaan asma-Mu, dengan kalimat-Mu yang
sempurna dan dengan kehormatan Nabi-Mu, Muhammad saw,
sudilah kiranya Engkau memeliharaku dari segala bala
bencana-Mu; Ya Allah, Tuhan Penolak Segala Bencana; Ya
Allah, Tuhan Yang Menghilangkan Kesulitan dan
Penyingkap Kesedihan, hilangkanlah dari sisiku apa-apa
yang telah Engkau tentukan kejadiannya atas diriku
pada tahun ini dari segala kesulitan dan kesedihan;
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan apa
saja; dan semoga shalawat dan salam Allah senantiasa
tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad saw,
keluarga dan para sahabatnya. Amin

Wa min Allah at Tawfiq

Wassalam, arief hamdani
HP. 0816 830 748, 0888 133 5003
www.mevlanasufi.blogspot.com

Rabu Wekasan (Rabu Terakhir di Bulan Sofar), turunnya Bala' dalam setahun...



Diterangkan dalam kitab Jawahir, ألله سبحانه وتعالى pada tiap-tiap tahun menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) bala’ (bencana) dalam “Rabu Wekasan”, hari Rabu terakhir di bulan Sofar. Pada hari itu disebut hari paling payah.

Untuk itu, para ulama’ mendekatkan diri (taqorrub) kepada الله سبحانه وتعالى agar terhindar dari bala’ yang diturunkan, dengan cara melakukan amalan-amalan yang dianjurkan ajaran agama Islam, seperti sholat, berdo’a, shodaqoh, dan lain sebagainya. Amalan yang biasanya dikerjakan pada hari itu antara lain :

1. Mandi tolak balak, dengan niat sebagai berikut :

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِدَفْعِ الْبَلاَءِ لله تَعَالى

2. Sholat tolak balak 4 raka’at, tiap dua raka’at salam. Adapun surat-surat yang biasanya dibaca setelah Al-Fatihah yaitu : Surat Al-Kautsar 17 kali, Surat Al-Ikhlas 5 kali, Surat Al-Falaq 1 kali dan Surat An-Nas 1 kali. Adapun setelah salam membaca do’a seperti di bawah ini :

بسم الله الرحمن الرحيم . الحمد لله رب العالمين. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد واله وصحبه عدد صلوات المصلين عليه.
اللهم يا شديد القوى, ويا شديد المحال يا عزيز يا من ذلت لعزتك جميع خلقك اكفنى من شر
جميع خلقك, يا محسن يا مجمل يا متفضل يا منعم يا مكرم يا من لا اله الا انت ارحمنى
برحمتك يا ارحم الراحمين. اللهم بسر الحسن واخيه وجده وابيه وامه وبنيه اكفنى شر هذا اليوم
وما ينزل فيه يا كافى المهمات يا دافع البليات فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم. وحسبنا الله ونعم
الوكيل ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم.
اللهم اعصمنا من جهد البلاء ودرك الشقاء وسوء القضاء وشماتة الاعداء وموت الفجأة ومن
شر السام والبرسام الحمى والبرص والجذام
والاسقام ومن جميع الامراض برحمتك يا ارحم الراحمين. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى
اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين.


3. Membuat air salam, yaitu air yang menulis وفق Rabu Wekasan kemudian dimasukkan ke dalam air, kemudian dido’ai, وفق nya seperti di bawah ini :



Semoga الله سبحانه وتعالى selalu melindungi kita dari mara bahaya.

trim's buat infonya by: http://farazinux.wordpress.com/2009/02/23/rabu-wekasan-rabu-terakhir-di-bulan-sofar-hari-terburuk-dalam-setahun/

30.1.10

MANAQIB ASY-SYEICH ABDUL QADIR AL-JILANI


Kedua Telapak Kakiku ada di punggung setiap Wali Allah Bismilahirrohmaanirrohiim Alhamdu Lilaahi Robbil”aalamiin Asholaatu Wasalaamu ‘ala Sayyidil Mursaliin, Sayidinaa wa Maulanaa Muhammadin wa ‘alaa AaliHi wa ShohbiHi wa ‘alainaa ma’ahum AmiinB Al-Hafid Abu Izza Abdul Mughist bin Harb Al-Baghdadi dan yang lainnya berkata ” Kita biasa hadir di majelis Syeh Abdul Qodir di ribathnya di Baghdad.

Umumnya yang menghadiri majelis beliau adalah para Syaikh Iraq diantaranya ; Syaikh Alibin Hiti, Baqa bin Bathu’, Abu Sa’id Al-Qailawi, Musa bin Mahin , Abu NajibAssahrawardi, Abu karam, Abu Umar, Utsman Al Qursyi, Makarim al-Akbar, Mathar, Jaakir, Khalifah, Shidqah, Yahya Murtasyi, Ad-diya Ibrahim al-Juwaini, Abu Abdulah Muhammad al-Qazwaini, dan masih banyak lagi selanjutnya klik di siniAbu Ustman, Umar Ak-Batiahi, Qadib Al- Baan, Abul Abas Ahmad Al-Yamani, Abu Abas Ahmad Al-Qazwaini beserta muridnya Daud yang selalu melaksanakan Shalat fardhu di Makkah, Abu Abdulah Muhammad Al-Khas, Abu Umar, Ustman Al-Iraqi As-Syauki, yang konon merupakan salah seorang Rijal Ghaib ….dan lain sebagainya.

Dalam kondisi Spiritual sang Syaikh berkata “Kakiku ini ada di punggung setiap Wali”. Begitu mendengar tersebut Syeh Ali ASl-Hiti langsung bangkit dan meletakkan kaki SyehAbdul Qodir Al-Jailani di pundaknya. Begitu pula dengan yang lain, mereka telah mengulurkan pundaknya untuk melaksanakan hal tersebut. Syeh Ali bin Abi Barakat Shakr bin Shakr meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar ayhnya pernah berkata “Aku penah berkata kepada pamanku Syeh Uday bin Musafir ‘Sepanjang pengetahuan anda selain Syeh Abdul Qodir Al-Jailani adakah para ulama terdahulu yang berkata ‘Kedua kakiku ini ada di pungggung setiap Wali Allah ?’ “Tidak” jawabnya. ‘Jika memang demiian sambungku, lalu apa makna dari perkataan tersebut ?’ Beliau berkata “itu artinya Syeh Abdul Qodir telah mnecapai maqom wali Afrod .

‘Tapi bukankah di setiap generasi terdapat Wali Afrad bantahku lagi. “Benar tapi tidak ada seoranpun yang diperintahkan oleh Allah untuk mengucapkan kalimat ini” jawabnya. ‘Jadi memang beliau diperintahkan untuk mengucapkan kalimat tersebut ? tanyaku. ‘ya’ jawab beliau. Kemudian beliau berkata ‘karena adanya perintah tersebut mereka meletakkan kepala . Bukankah engkau mengetahui bahwa para Malaikat as bersujud kepada Adam karena adanya perintah krpada mereka untuk melaksanakan hal tersebut.

Syeh Baqa bin Bathu An-Nahri Al-Maliki berkata ” Syeh Abdul Qodir berkata’kedua kakiku ini berada di setiap punggung Wali Allah’”. Berkenaan dengan itu Syeh Ibrahim dan Syeh Abi Hasan Ali Arrifa’i al-Bathiahi mwriwayatkan bahwa ayahnya pernah bertanya kepada pamannya Syeh Ahmad Arrifa’i ‘apakah pernyataan Syeh Abdul Qodir ‘ kedua telapak kakiku ini berada di punggung setiap wali Allah berdasarkan perintah atau tidak?’ Pernyataan tersebut berdasarkan perintah jawab beliau.

Dalam sebuah riwayat tyang dinisbatkan kepada Syeh Abi Bakaw bin Hawwar menyatakan bahwa veliau pernah berkata di majlisnya ,”Nanti akan muncul di Iraq seorang non arab yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan manusia. Namanya Abdul Qodir dan tinggalnya di Baghdad, Dia akan berkata ” Kedua kakiku ini berada di setiap punggung Wali Allah” Dan setiap wali akan mengakui bahwa beliau adalah wali Afrad pada zamannya. Sulthon Auliya dan Syaikh Islam Izzuddin bin Abdissalam berkata, ” Belum pernah kemutawatiran riwayat tenteang sebuah karomah yang sampai kepada kami sebanding dengan kemutawatiran karomah Syeh Abdul Qodir Al Jailani .

Beliau adalah orang yang berpegang teguh kepada Syari’ah , menyeru orang-orang untuk melaksanakan syari’ah, dan menghindarkan diri dari yang dilarang olehNya. Beliau berbaur dengan masyarakat sambil terus menerus beribadah dan beliau bisa mencampurkannya dengan sesuatu yang menyibukkan beliau seperti menikah dan memiliki keturunan . Barang siapa yang mengikuti jalan ini maka ia lebih sempurna daripada yang lain. Ditambah lagi apa yang dinyatakan fdi atas merupakan karakter dari Rosulullohi SAW .

Diantara karomah beliau adalah pernyataan beliau ‘Kedua telapak kakiku ini berada di setiap punggung Wali Allah. Hal tersebut dikarenakan kesempurnaan beliau tidak tertandingi pada masa itu yang tidak diragukan lagi menjadikannya berhak mendapatkan kehormatan tersebut. Syeh Mathar meriwayatkan “Suatu hari ketika saya sedang berada di Zawiyah Syeh Abu Wafa’, guruku, di daerah Qailamaya beliau berkata kepadaku ‘Ya Mathar tutup pintu, jika ada seorang pemuda Ajam (non Arab) datang memohon untuk masuk maka jangan diberi dia ijin’. Akupun melaksanakan perintah beliau. ternyata yang datang adalah Syeh Abdul Qodir yang pada waktu itu masih seorang pemuda. Beliau mohon ijin untuk masuk namun Syeh Abu Wafa’ tidak mengijinkannya masuk.

Saat itu aku melihat Syeh Abu Wafa’ berjalan hilir mudik dalam zawiyah dengan gelisah. Setelah itu beliau mengijinkannya untuk masuk. Ketika Syeh Abu Wafa’ melihat Syeh Abdul Qodir beliau melangkah mendekat dan memeluknya beberapa lama seraya berkata ‘Abdul Qodir‘ demi Yang Maha Agung aku tidak mengijinkanmu masuk pertama kali bukan karena keinginan zalim terhadap hakmu akan tetapi karena takut terhadap dirimu. Akan tetapi setelah aku ketahui bahwa engkau ingin belajar kepadaku dan menaatiku, baru aku merasa aman. Syaikh Abdurrahman At-Tahfsunaji berkata “Saat Syeh Abdul Qodir datang ke Zawiyah Tajul ‘Arifin Abu Wafa’ beliau berkata kepad para muridnya ‘ Berdiri dan smbutlah Wali Allah’-Pernyataan ini mungkin terjadi pada saat Syeh Abdul Qodir sedang berjalan menuju beliau atau dikeluarkan kepada mereka yang belum bediri ketika Syeh Abdul Qodir datang- Ketika beliau megulang-ulang perintah tersebut, seorang muridnya bertanya kepada beliau sebab pernyataan tersebut.

Beliau menjawab “Pada saatnya nanti pemuda ini akan menjadi sandaran baik golongan khas maupun awam. Aku seakan akan melihatnya seang berbicara di depan khalayak ,”Kedua telapak kakiku ini berada di punggung setiap Wali Allah”. dan pernyataan itu benar adanya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwea beliau adalah Qutb mereka pada saat itu. Barang siapa berjumpa dengannya pada sat itu, berkhidmadlah kepadanya. Syaikh musallamah bin Naimah As-Saruji ketika ditanya tentang siapakah Qutb itu, beliau menjawab, “Beliau sekarang ada di Makkah, bersembunyi dan hanya diketahui oleh orang-orang saleh. Dan akn muncul di sini (Iraq) seorang pemuda ‘ajam yang mulia bernama Abdul Qodir Akan tampak dari beliau beberapa Karomah yang luar biasa .

Beliau adalah Qutb waktunya dan Ghauts Zamannya. Baliau akn berkata di hadapan orang-orang “Kedua telapak kakiku ini ada di punggung setiap Wali Allah”, dan para Wali akan merendahkan punggungnya kepada beliau. Allah akan memberikan manfaat darinya dan dari karomahnya kepada siapa saja yang mempercayainya. Syaikh Ali Al-Hiti meriwayatkan, “ketika Syaikh Abu Wafa sedang berbicara di dalam majlis, masuklah Syeh Abdul Qodir . beliau memerintahkan para murid untuk mengeluarkannya dan meneruskan ceramahnya. Kemudian untuk yang ke tiga kalinya Syeh Abdul Qodir kembali masuk ke pengajian tersebut. Kali ini Syaikh Abu Wafa’ turun dari kursinya tempat menyampaikan pengajaran lalu memeluk beliau dan menciumi dahinya seraya berkata,’Para penduduk Baghdad, berdirilah demi Wali Allah ini. Perintahku untuk mengusirnya tidak lain agar kalian mengetahuinya bukan untuk menghinanya.

Betapa mulia seorang hamba yang kibaran panji di atas kepalanya melingkupi timur dan barat’. Kemudian beliau berkata kepada Syeh Abdul Qodir , “Abdul Qadir, masa sekarang milik kami,dan kelak akan menjadi milikmu. Aku serahkan kepadamu Iraq. Semua ayam akan berkokok dan berhenti kecuali kokokan ayammu yang tidak akan berhenti hingga hari kiyamat’. Setelah itu beliau memberikan sajadah, baju, tasbih , tempat makan dan tongkatnya kepada Syeh Abdul Qodir. ‘Ambil semua itu dengan bai’at saran seseorang kepadanya. Namun Syaikh Abu Wafa’ berkata, di dahinya terdapat bai’at Al-Makhzuumi’.

Setelah majlis tersebut selesai, Taajul ‘arifiin Syaikh Abu Wafa’ turun dan duduk di akhir tangga tempatnya mencapaikan ceramah seraya menggenggam tangan Syeh Abdul Qodir dan berkata, ‘sekarang adalah waktumu.’ Jika beliau datang aku selalu teringat akan kisah ini dan kemuliaan beliau’. Syaikh Umar Al-Bazaar berkata, “tasbih yang diberikan Syaikh Abu Wafa kepada beliau dapat berputar sendiri biji-bijinya jika diletakkan di atas tanah. Setelah bellliau eninggal dunia, tasbih tersebut menjadi milik Syaikh Ali bin Al-Hiti. Begitu juga dengan tangan orang yang menyentuh tempat makan yang diberikan Syaikh Abu Wafa’ kepada beliau akan bergetar hingga bahunya”.

Syaikh Muhammad Yusuf Al-Aquuli berkata”Aku berniat berziarah kepada Syeh Uday Bin Musafir. Ketika aku menghadap, beliau bertanya kepadaku ‘dari mana anda ?’Aku adalah salah seorang murid Syeh Abdul Qodir ‘ Jawabku. Mendengar jawabanku bekliau berkata ‘Bagus, Qutb-Al arda (bumi) yang dengan pernyataannya “Kedua telapak kakiku ini ada di punggung setiap Wali Allah “ menjadikan 300 Wali dan 700 orang-orang Gaib yang berjalan di bumi maupun yang terbang, mengulurkan pundak mereka kepadanya dalam satu waktu”. Kemudian aku menziarahi Syeh Ahmad Rifa’i dan menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Syeh Uday saat itu dan beliau berkata “sungguh tepat apa yang disampaikan beliau (Syeh Uday). Syaikh Majid Al Kurdi berkata,”saat Syeh Abdul Qodir mengatakan pernyataan di atas, semua wali di bumi pada saat itu merendahkan lehernya sebagai tanda pengakuan mereka terhadap beliau.

Dan tidak ada segolongan jin soleh pun yang tidak datang menghadapnya untuk bertobat dan mengakui beliau hingga mereka berdesak-desakan di pintu rumahnya. Riwayat ini disetujui oleh Syaikh Mathar. Kemudian beliau berkata, “Aku bertanya kepada Syaikh Abdullah bin Sayyidina Syeh Abdul Qodir Al-Jailani ,’apakah engkau menghadiri majlis saat ayahmu berkata ,’kedua telapak kakiku ini berada di punggung setiap wali Allah , ‘ya’ jawabnya. Kemudian ia berkata,’ yang hadir pada saat itu sekitar 50 orang syaikh’. Ketiks beliau masuk ke dalam rumahnya, yang tersisa hanya Syaaikh Makarim, Syaikh Muhammad Al-Khas, dan Syaikh Ahmad Al-‘Aarini. ‘kamipun duduk dan berbincang-bincang’ ujarnya.

Syaikh Makarim berkata, “Allah memperlihatka kepadaku pada saat itu semua orang yang memiliki panji kewalian di muka bumi mengakui panji kequthuban di tangan beliau dan mahkota ghoutsiah di atas kepala beliau dan jubah otoritas total atas segala yang wujud/eksis , untuk mengangkatnya menjadi Wali atau menurunkannya sesuai syariat dan hakikat.

Dan aku mendengar eliau berkata ,”kedua telapak kakiku ini berada di punggung setiap Wali Allah yang akan menundukkan kepala dan merendahkan dirinya kepada beliau bahkan termasuk di dalamnya para abdal yang sepuluh, usltan masa tersebut Masih berkenaan dengan pernyataan Sang Syaikh, Syeh Abu Sa’id Al-Qailawi berkata “ketika Syeh Abdul Qodir mengatakan ‘kedua telapak kakiku ini ada di setiap punggung Wali Allah’ , Allah Tajalli dalam jiwa beliau.

Kemudian sekelompok malaikat datang membawakan jubah kebesaran Rosululloh SAW untuk dipakaikan kepada beliau di hadapan para Wali terdahulu maupun yang akan datang.-yang hidup datang dengan jasadnya, yng sudah meninggal datang dengan ruhnya. Para malaikat dan Rijal Al-Ghaib mengelilingi majlisnya dan berbaris ber shaf-shaf di udara , begitu banyak jumlahnya hingga seluruh ufuk penuh dengan kehadiran mereka. Dan semua Wali yang ada di muka bumi ini menundukkan kepala untuk beliau”. Syeikh Kholifah Al Akbar bercerita “Saat aku bertemu dengan Rosululloh SAW dalam mimpi aku bertanya kepad beliau ,’ Yaa Rosululloh Syeh Abdul Qodir trlah berkata ‘Kedua telapak kakiku ini ada di punggung setiap Wali Allah ‘ Beliau menjawab ‘Yang diucapkan leh beliu adalah benar.

Bagaimana mungkin tidak benar apabila dia adalah Qutb (para wali) dan aku (Rosululloh SAW yang emngawasinya. Di hari Jum’at 3 Ramadan 599 H. seorang pria datang menghadap Syeh Hayyan bin Qis Al-Harani di masjid Al Hiran memohon Khirqah (jubah kesifian tanda bai’at) kepada beliau. “Dalam dirimu talah terdapat tanda selain aku’ kata beliau kepadanya. orang itu berkata, ‘benar aku pernah bertemu Syeh Abdul Qodir namun tidak ber bai’at kepada beliau”. Syeh Hayyan berkata “selama beberapa waktu kita telah hidup di bawah bayangan kehidupan Syeh Abdul Qodir Al Jailani .telah kita meminum gelas-gelas kebahagiaan dari mata air pengetahuan beliau. dan Dari Beliau diperoleh rahasia para Wali menurut tingkatan mereka. Suatu saat Syeh Lulu Al Armani ketika bertemu dengan Syeh Atha’ Al-Masri , beliau meminta untuk menyebutkan para gurunya. Syeh Lulu berkata ,”Atha’ guruku adalah Syeh Abdul Qodir Al Jailani yang menyatakan “kedua telapak kakimku ini ada di punggung setiap Wali Allah .Dan pada saat beliau selesai mengucapkan hal tersebut tercatat 313 Wali Allah dari segala penjuru dunia menundukkan kepala meeka , 17 orang berada di Haramain , 60 orang di Iraq, 40 orang di negeri non Arab, 40 orang di Syam, 20 orang di mesir, 27 orang di Maroko, 11 orang di Habsyah, 7 orang di tembok penahan Ya’juj dan Ma’juj, 7 orang di Wadi Sarandib, 47 orang di gunung Qof, 20 orang di daerah teluk.

Dan banyak yang besaksi bahwa pernyataan tersebut diucapkan berdasarkan perintah Allah. Kemudian beliau melanjutkan.”Aku sendiri melihat para Wali di timur maupun di barat merundukkan kepala mereka kepada Syeh Abdul Qodir kecuali seorang Wali di daerah luar Arab yang kemudian hilang tanpa bekas. Diantara mereka yang merundukkan kepalanya kepada beliau adalah Syeh Baqa’ bin Bathu’ , Syeh Abu Sa’id Al-Qaylawy , Syeh Ahmad Arrifa’y yang dalam sebuah riwayat memanjangkan lehernya dan melihat punggungnya seraya berkata,’Memang ada di punggungku’. Saat di tanya mengenai perkataannya itu, beliau berkata,’saat ini di Baghdad , Syeh Abdul Qodir sedang berkata ,’ Kedua telapak kakiku ini ada di punggung setiap Wali Allah‘. Termasuk diantara mereka yang menundukkan kepala kepada beliau adalah Abdurrahman Athafsunaji, Abu Najib Assahrawardi, yang mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar hal tersebut seraya berkata’di atas kepalaku.

Musa Al Jazuli, Musa Al Harani, Abu MUhammad bin ‘Abd, Abu Umar, Ustman bin Marzuq , Abu Al-Karam , Majid Al Kurdi , Suwaid Annajari, Ruslan Addimasqi, yangmenundukkan kepalanya di Damaskus seraya berkata kepada para muridnya ‘Allah memiliki mutiara yaitu orang yang minum dari lautanAl Quds dan duduk di permadani ma’rifah serta menyaksikan keMaha Agungan Rububiyah / ketuhanan dan ke Maha Besaran Wahdaniyah (ketunggalan). Sifat (kemanusiaannya) lenyap saat menyaksikan keMaha Besaran Nya Eksistensinya lebur saat menyaksikan ke-WibawaanNya Maka dipakaikannya kepadanya jubah keacuhan (terhadap dunia) dan ditempatkan di puncak tangga Al-Inayah hingga beliau mencapai maqom yang telah ditentukan dan didudukkan di puncak ruh Azaly .

Dia berbicara dengan hikmah dari lembaran-lembaran cahaya, bercampur dengan kepekatan rahasiaNya. Hilang kesadarannya ketika berada di Hadirat Allah dan tidak pernah terputus denagn Allah ketika Ia kembali sadar. Berdiri dengan penuh rasa malu, berbicara dengan tawadhu’ mendekatkan diri dengan penuh kerendahan, berbicara dengan kemuliaan , baginya ucapan selamat dan salam terbaik adalah berasal dari Tuhannya. ‘Apakah di dunia ini ada orang yang memiliki ciri seperti itu ?’ tanya seseorang kepada beliau’Ada, dan Syeh Abdul Qodir pemimpin mereka’jawab beliau.

Di Maroko (Maghrib) Syaikh Abu Madin (setelah mendengarkan pernyataan Syaikh Abdul Qadir ) memanjangkan lehernya dan berkata, ‘benar dan aku salah seorang dari mereka. Yaa Allah aku bersaksi kepadaMu dan kepada para MalaikatMu bahwa aku mendengar dan patuh’. Kemudian termasuk diantara mereka adalah Syaikh Abu Na’im AL-Maghribi, Syaikh Abu Umar dan Utsman bin Marwazih Al-Bathiahi, Syaikh Makarim, Syaikh Khalifah, Syaikh Uday bin Musafir.

Pada saat beliau mengucapkannya banyak orang yang melihat rombongan orang yang terbang di udara untuk menghadap beliau berdasarkan perintah Khidir as. Dan setelah mengucapkan selamat, seorang wali berkata kepada beliau, ‘eahai raja zaman, pengusas tempat, pelaksana perintah Sang Maha Pengasih, pewaris kitab Allah dan wakil RasuluLlah SAW, yang dianugerahi langit dan bumi, yang menjadikan seluruh orang pada masanya sebagai keluarganya, yang doanya dapat menurunkan hujan, dan berkahnya menghilangkan mendung, yang menjadikan kepala orang yang menghadapnya tertunduk, yang makhluk gaib hadir di hadapannya sebanyak 40 shaf, dengan 70 orang Gaib pada setiap shaf, yang ditelapak tangannya tertulis bahwa dia tidak akan mendapat makar dari Allah, dan di umurnya yang ke dua puluh para malaikat berputar di sekelilingnya serta menyampaikan kabar gembira kewalian beliau’.

Pada suatu masa, air sungai dajlah meluap dan membanjiri Baghdad. Orang-orangpun mendatangi beliau memohon pertolongannya. Sambil membawa tongkatnya beliau berjalan menuju tepian sungai dan menancapkannya di batas air seraya berkata, “cukup sampai di sini” dan saat itu pula air sungai tersebut menyurut. Syaikh Abdullah Dzayyal berkata, “suatu saat ketika berada di madrasah beliau di tahun 560 H aku melihat beliau memegang tongkat. Saat itu aku berharap aku dapat melihat karamah yang keluar dari tongkat tersebut. Beliau kemudian memandang ke arahku sambil tersenyum lalu menancpakan tongkatnya ke tanah, seketika itu pula cahayanya menyembur dari tanah, menembus awan dan menjadikan langit terang benderang beberapa saat. Beliau kemudian mencabutnya kembali dan keadaan pun kembali seperti semula.

Beliau berkata kepadaku, ‘Dayyal, bukankah ini yang engkau kehendaki’”. Syaikh Abu Taqy Muhammad bin Al-Azhar Ash-Shariifni berkata, “selama setahun penuh aku memohon kepada Allah untuk dapat melihat salah seorang dari rijal Al-Ghaib. Pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengan seorang pria saat sedang menziarahi makam Imam Ahmad bin Hambal. Terbetik dalam hatiku bahwa beliau adalah salah seoraang rijal Al-Ghaib. Akupun terbangun dan sengan harapan dapat bertemu dengannya akupun pergi ke makam Imam Ahmad bin Hambal . akupun bertemu dengan orang yang ada di dalam mimpiku di sana. Saat beliau keluar aku mengikutinya hingga sampai ke tepi sungai Dajjlah.

Di tepian tersebut beliau menarik tepian sungai tersebut hingga keduanya hanya berjarak satu langkah dan menyeberanginga. Aku memohon kepadanya untuk berhenti dan berbicara kepadaku. Aku bertanya, “apa mazhabmu ?”. “Aku bermazhab Hanafi, seorang muslim dan bukan musyrik”. Jawab beliau. Kemudian hatiku seakan – akan berkata, ‘pergi ke Syaikh Abdul Qadir dan ceritakan apa yang engkau alami’.

Akupun mengunjungi sang Syaikh. Setibanya aku di pintu madrasah, beliau berkata dari dalam rumah tanpa membuka pintunya, ‘yaa Muhammad, saat ini hanya dialah seorang wali yang bermazhab Hanafi di muka bumi ini’. Suatu saat beliau naik ke atas kursi tempat beliau mengajar, tidak berbicara dan tidak menyuruh pembaca kitab untuk membacakannya. Dan orang-orang yang hadir memasuki kondisi ektase dan perkara yang agung memasuki mereka.

Salah seorang yang hadir bertanya dalam hati, “apa ini ?”. beliau berkata, “seorang muridku datang dengan satu langkah dari baitul Muqaddas kemari untk bertaubat dan semua yang hadir pada saat ini dianggap sebagai tuan rumahnya. “dalam hatinya orang tersebut berkata, “jadi siapa yang mengalami kondisi seperti ini adalah mereka yang bertaubat ?”. pernyataan tersebut dijawab sang Syaikh, jangan engkau berharap kepadanya. Dia datang kepadaku dan memintaku untuk mengajarinya jalan untuk mencinta”. Pernah suatu saat Syaikh Abdul Qadir berjalan di atas udara di depan banyak orang dan berkata, “Matahari selalu menyampaikan salam kepadakusetiap ia ingin terbit. Demikian pula halnya dengan hari, bulan dan tahun. Mereka –juga- menginformasikan kepadaku tentang apa tentang apa yang terjadi.

Di beberkan kepadaku Lauh Al-MahfudzI tentang siapa yang mendapatkan kesenangan dan siapa yang mendapatkan kesusahan. Aku tenggelam dalam lautan Ilmu dan Musyahadah –Nya. Aku adalah sandaran kalian dan wakil RasuluLlah SAW di muka bumi”. Syaikh Abdul Qadir berkata, “Setiap wali berada di bawah telapak kaki para Nabi dan aku berada di bawah telapak kaki kakekku RasuluLlah SAW. Semua tempat yang aku injak maka bekasnya akan emnjadi telapak kaki Nabi.”

Syaikh Abdul Qadir berkata, “Aku adalah Syaikh bagi para manusia dan jin.” Di lain kesempatan beliau berkata, “jika kalian bertanya kepada Allah, tanyakan aku kepadaNya. Wahai penduduk bumi, dari timur hingga barat, kemarilah dan belajar dariku. Wahai penduduk Iraq, Ahwal –kondisi spiriutal- yang kumiliki seperti baju yang tergantung di rumah. Baju manasaja yang engkau pilih akan aku pakaikan kepadamu. Hendaknya kalian menyampaikan salam atau akan aku bawakan pasukan tiada tanding. Hai saudara, berkelanalah 1000 tahun agar engkau dapat mendengarkan perkataanku.

Saudara, kewalian dan beberapa derajad spiritual ada di sini, di majlisku. Semua Nabi yang diciptakan Allah dan semua wali menghadiri majlisku baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Yang masih hidup dengan fisik mereka sedangkan yang sudah meninggal dunia dengan rohnya. Saudara sekalian tanyakan diriku kepada Munkar dan Nakir ketika mendatangi kalian (di kubur) maka mereka akan menceritakan diriku kepada kalian.” Abu Ridho, pelayannya meriwayatkan, dalam suatu kesempatan Syaikh Abdul Qadir berbicara tentang roh. Di tengah penjelasan, beliau diam, duduk dan kemudian bangkit kembali seraya bersenandung, Rohku telah diciptakan dengan hikmah dalam ke-qadiman, sebelum ia mewujud, ketika ia dalam ketiadaan sekarang, bukankah suatu kebaikan setelah aku mengenal kalian lalu aku pindahkan kakiku dari jalan hawa kalian.

Di lain riwayat, Abu Ridho bercerita, “suatu hari ebliau menjelaskan tentang cinta. Tiba-tiba beliau bangkit dan diam. Lalu beliau berkata, ‘Aku tidak akan berbicara kecuali dengan 100 dinar.’ Orang-oranagpun menyerahkan kepada beliau apa yang beliau minta. Kemudian beliau memabggilku dan berkata, ‘pergilah engkau ke pekuburan Syunuziyah dan cari seorag syaikh yang sedang bermain-main dengan kayu lalu berika emas ini kepadanya dan bawa ia kepadaku’. Kemiudin akupun pergi dan menemukan syaikh yang beliau maksud sedang berdiri dan memain-mainkan tongkat kayu. Akupun mengucapkan salam dan menyerahkan emas tersebut kepadanya.

Dia berteriak dan jatuh pingsan. Saat beliau sadar aku bertanya kepadanya, ‘Syaikh, Syaikh Abdul Qadir ingin bertemu denganmu’. Beliau kemudian bangkit dan menemui Syaikh Abdul Qadir. Setibanya di sana Syaikh Abdul Qadir memberikan perintah untuk menaikkannnya di kursi tempat beliau mengajar dan meminta orang tersebut untuk menceritakan kisahnya. Dia berkata, ‘Tuanku, sewaktu aku masih muda aku adalah seorang penyanyi bagus yang dikenal banyak orang.

Tetapi setelah aku tua, tidak ada seorangpun yang memperhatikan aku. Aku pergi dari Baghdad dan berkata dalam hati, “aku tidak akan menyanyi kecuali untuk yang mati”. Saat aku mengelilingi kuburan ini, aku duduk di salah satu kuburan yang ternyata telah terbelah dan nampak kepala mayat yang ada di dalamnya. Mayat tersebut berkata kepadaku, “Mengapa engkau menyanyi untuk orang-orang mati, bernyanyilah untuk Yang Maha Hidup sekali maka Dia aakn memberikan kepadamu apa yang engkau inginkan”.

Akupun jatuh pingsan, dan setelah tersadar aku berkata Tuhanku, aku persiapkan apa yang aku miliki untuk hari pertemuan dengan-Mu, kecuali pengharapan hati dan ucapan mulutku. Memang, sudah asalnya para pengharap mengharapkan harapan dan mereka akan bersedih apabila engkau menolaknya Jika hanya golongan Muhsin yang boleh berharap kepadaMu, lalu kepada siapa si pendosa berlindung dan melarikan diri.

Ubanku membuatku jelek di hari penghabisan dan perjumpaan denganMu, semoga engkau menyelamatkan aku dari apiku. Saat aku berdiri, pelayan anda datang membawakan emas ini”. Sambil mematahkan tongkat kayu yang ada di tangannya dia berkata, sekarang aku bertobat kepada Allah’. Usai mendengarkan kisah tersebut, Syaikh Abdul Qadir berkata, “Yaa fuqara’ , jika kejujuran (orang ini) terhadap sesuatu yang sia-sia saja menyebabkannya memperoleh apa yang ia inginkan, apalagi dengan para sufi yang bersungguh-sungguh dalam kesufian, ahwal dan thariqahnya”.

Kemudian beliau melanjutkan, “hendaklah kalian berlaku jujur, dan bersih hati. Tanpa keduanya, tidak mungkin seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Apakah kalian tidak mendengar firman Allah, “Jika berbicara hendaklah kalian berkata jujur””. Saat beliau meminta 100 dinar, ada 40 orang mengantar jumlah yang sama kepada beliau. Beliau hanya mengambil dari satu oraang, dan setelah orang ini bertaubat, sisa dari uang pemberian tersebut beliau bagikan kepada orang-orang. Peristiwa hari itu menyebabkan 5 orang meninggal dunia. Al-Kaimani, Al-Bazaar, dan Abu Hasan Al-Ali yang dikenal dengan As-Saqazar bercerita bahwa pada hari Rabu tanggal 27 Sya’ban tahun 529 H. Syaikh Abdul Qadir bersama rombongan mengunjungi pekuburan Syunizi. Beliau berhenti di pekuburan Syaikh HammadAd-Dabbas agak lama kemudian menlanjutkan perjalanannya dengan muka berseri-seri. Pada saat ditanya sebab lamanya beliau berhenti dan berseri-serinya muka Beliau, sang Syaikh menjawab, “Pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 499 H aku bersama murid Syaikh Hammad mengikuti beliau keluar Baghdad.

Setibanya di jembatan Yahud, beliau mendorongku sampai aku tercebur ke sungai-pada saat itu udara sangat dingin-kemudian mereka berlalu dan meninggalkanku. Aku berkata dalam hati, “Aku berniat mandi Jum’at”. Saat itu aku mengenakan jubah sufi dan di lenganku terdapat sebuah jubah lagi yang membuatku harus mengangkatnya agar tidak basah. Aku kemudian keluar dari air dan memeras jubah tersebut dan menyusul mereka dalam kondisi kedinginan hingga menusuk ke tulang. Melihat kondisiku, para murid bermaksud hendak menolongku namun beliau melarangnya seraya berkata, “Apa yang aku lakukan adalah untuk mengujinya, dan aku mendapatinya bagai gunung, kokoh tak bergerak”. “Hari ini aku melihat beliau dalam kubur memakai jubah dari cahaya bertabur permata. Di atas kepalanya terdapat mahkota dari Yakut . di tangan kirinya terdapat gelang dari emas dan beliau memakai dua sandal dari emas.

Tapi tangan kanannya hilang. ‘Ada apa dengan lengan ini ?’ tanya ku kepada beliau. Beliau menjawab, ‘inilah tangan yang aku pergunakan untuk mendorongmu’. Kemudian beliau berkata, ‘maukah engkau memaafkan perbuatanku itu ?’ ‘Ya’ jawabku. ‘jika demikian’ kata beliau, ‘mohonkan kepada Allah agar Dia mengembalikan lenganku seperti sedia kala’. Akupun memohonkan kepada Allah untuk itu dan pada saat itu 5000 wali turut memohon kepada Allah, mendukungku dari kubur mereka. Aku terus memohon kepada Allah hingga akhirnya Allah mengembalikann lengan kanannya dan beliau menjabat tanganku dengan tangan kanan tersebut. Dengan demikian sempurnalah kebahagiaannya dan kebahagiaanku.” Ketika kabar tersebut tersebar di Baghdad para murid Syaikh Hammad beramai-ramai mendatangi sang Syaikh untuk meminta klarifikasi atas pernyataan tersebut. Setibanya di madrasah beliau, sebagai rasa hormat mereka kepada beliau, tidak ada seorangpun yang memulai pembicaraan.

Beliaupun kemudian memulai pembicaraan dengan menerangkan maksud kedatangan mereka saat itu. Kemudian beliau berkata kepada mereka, “Kalian pilih dua orang. Insya Allah melalui mereka berdua akan jelas apa yang aku ucapkan”. Mereka kemudin memilih Syaikh Yusuf Al-Hamdani RA. Yang pada saat itu ada di Baghdad, dan Syaikh Abdurrahman AL-Kurdi yang memang tinggal di Baghdad. Mereka berdua termasuk orang-orang yang dianugerahi kasyf .’Kami serahkan urusan ini kepada kalian’ kata mereka kepada kedua Syaikh tersebut. ‘Bahkan kalian jangan beranjak dari tempat kalian berada sampai terbukti apa yang aku ucapkan’ kata beliau kepada mereka. Kemudian beliau menghentakkan kakinya ke tanah dan pada saat itu para sufi di luar telah berteriak memberitahu bahwa Syaikh Yusuf Al Hamdani RA telah datang dengan berjalan bertelanjang kaki sampai beliah masuk ke madrasah sang Syaikh.

Di sana beliau berkata, ‘Aku bersaksi bahwa Syaikh Hammad Ad-Dabbas berkata kepadaku, “Cepatlah datangi majlis Syaikh Abdul Qadir dan katakan pada para Syaikh yang hadir bahwa apa yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Qadir adalah benar adanya’. Beliau sempat menamatkan perkataannya, Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman Al-Kurdi datang dan beliau menyatakan pernyataan seperti yang dikatakan oleh Syaikh Yusuf Al-Hamdani RA. Setelah mendengarken pernyataan tersebut, mereka bangkit dan memohon maaf kepada Syaikh Abdul Qadir”. Seseorang berkata kepada beliau, “Kami berpuasa seperti yang Anda lakukan, dan melaksanakan shalat sepertiyang Anda lakukan. Tapi tidak ada satupun kondisi spiritualmu yang dapat kami lihat”.

Beliau berkata, “kalian dapat bersaing denganku dalam hal melaksanakan amal, akan tetapi kalian tidak dapat bersaing denganku dalam hal anugerah yang diberikan kepadaku. Demi Allah, aku tidak akan makan sampai Allah berkata kepadaku, ‘Demi hak-Ku atas dirimu, makan’. Aku juga tidak minum sampai Allah berkata kepadaku, ‘Demi hak-Ku atas dirimu, minum’. Dan aku tidak akan melakukan sesuatu kecuali berdasarkan perintah Allah”. Syaikh Abdul Qadir berkata, “Pada suatu ketika di masa mujahadahku (perjuangan) aku tertidur. Dalam tidur tersebut aku mendengar suara yang berkata kepadaku, ‘Ya Abdul Qadir, Kami tidak menciptakanmu untuk tidur. Kami telah hidupkan engkau maka jangan lupakan Kami’”.

Syaikh Abu Naja Al-Baghdadi, pelayan Syaikh Abdul Qadir meriwayatkan bahwa pernah suatu ketika hutang sang Syaikh kepada beberapa orang telah mencapai 250 dinar, lalu datanglah oraaang yang tidak aku kenal dan masuk tanpa ijin lalu duduk dihadapan sang Syaikh. Dia mengeluarkan uang seraya berkata, “ini adalah pembayar hutang” kemudian ia pergi. Kemudian beliau memerintahkan agar uang tersebut dibagikan kepada yang berhak. Kemudian –kata Syaikh Abu Naja- ketika aku menanyakan siapa orang tersebut, sang Syaikh berkata, “Dia adalah yang berjalan menurut Al-Qadar”. “Siapa yang berjalan menurut Al-Qadar” tanyaku lagi. Beliau menjawab, “Dia adalah malaikat yang diutus Allah kepada para waliNya yang memiliki hutang untuk melunasi hutang-hutang mereka”. Syaikh Uday bin Abu Barakat meriwayatkan bahwa ayahnya meriwayatkan dari pamannya Syaikh Uday bin Musafir.

Beliau berkata, “suatu ketika saat Syaikh Abdul Qadir memberikan pengajaran, turunlah hujan yang membuat orang-orang berpencar. Sang Syaikh menengadahkan kepalanya kep arah langit dan berkata, ‘Aku mengumpulkan mereka untukMu dan Engkau cerai beraikan mereka seperti ini’. Seketika itu pula hujan berhenti, tidak ada satu tetespun air yang turun di majlis tersebut sedangkan di luar madrasah hujan tetap lebat”. Syaikh AbdulLah Al-Jaba’I meriwayatkan, “ Pada suatu hari Syaikh Abdul Qadir sedang berbicara tentang bagaimana menghilangkan ujub. Tiba-tiba Beliau memalingkan Muka Beliau kepadaku dan berkata, ‘Apabila engkau melihat sesuatu yang berasal dari Allah dan hal tersebut menggiringmu untuk melakukan kebaikan serta engkau dapat melepaskan dirimu dari (meminta) penjelasan akan hal tersebut maka engkau telah lepas dari sifat ujub’”. Syaikh orang-orang sufi, Syaikh Syihabuddin Umar As-Sahrawardi berkata, “Dulu saat aku masih muda, aku menenggelamkan diriku untuk mempelajari ilmu kalam.

Aku hafal berbagai karangan dalam bidang tersebut dan segera menjadi seorang pakarnya. Pamanku telah memperingatkanku akan hal tersebut namun aku tidak mempedullikannya, sampai suatu hari aku dan dia menziarahi Syaikh Abdul Qadir. Beliau berkata kepadaku, ‘’Umar, Allah SWT berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin), sebelum pembicaraan itu’. Kami adalah orang-orang yang kalbunya selalu mendapatkan bisikan dari Allah. Sekarang lihatlah posismu di hadapan Allah agar engkau dapat melihat keberkahan melihat-Nya”. “ketika kami sudah duduk bersamanya, pamanku berkata kepada beliau, ‘Kmenakanku ini menyibukkan dirinya dengan ilmu kalam. Aku sudah larang dia akan tetapi dia tidak mematuhiku’.

Mendengar penuturan pamanku, beliau mengulurkan tangannya yang penuh berkah ke dadaku dan berkata, ‘Kitab apa saja yang telah engkau hafal ?’. Akupun menjawab dengan menyebutkan berbagai kitab yang telah aku hafal. Demi Allah, saat beliau mengangkat tangannya dari dadaku, tidak ada satu katapun dari kitab-kitab, yang sebelumnya aku hafal di luar kepala, yang masih aku ingat. Saat itu juga Alah Ta’ala telah melupakan aku tentang berbagai masalahnya dan menanamkan dalam dadaku ilmu laduni. Aku bangkit dari hadapannya sambil berbicara dalam bahasa hikmah.

Lalu beliau berkata kepadaku, “Umar, engkau adalah orang-orang terakhir yang termasuk golongan orang-orang masyhur di Iraq”. Syaikh Abdul Qadir adalah Sulthan ahl-Thariqah yang dianugerahi otoritas atas semua eksistensi. Abu Faraj bin Hamami bercerita, “Aku banyak mendengar cerita-cerita mustahil yang muncul dari Syaikh Abdul Qadir Al Jailani ra. Yang tidak dapat aku terima. Akan tetapi karena itulah aku ingin sekali bertemu dengan beliau. Suatu saat, aku pergi ke Bab Al-Azij untuk suatu keperluan. Ketika pulang aku melewati madrasahnya dan tepat pada saat itu muazin telah mengumandangkan shlalat ashar. Dalam hati aku berkata, ‘aku akan shalat ashar dan berkenalan dengan sang Syaikh’. Saat itu aku lupa bahwa aku belum berwudhu dan langsung shalat. Setelah selesai shalat, Syaikh Abdul Qadir menjumpaiku dan berkata kepadaku, ‘Anakku, jika engkau datang kepadaku dengan suatu hajat pasti akan aku kabulkan. Sayangnya sekarang engkau benar-benar lupa bahwa engkau belum berwudhu ketika melakukan shalat’. Pengetahuan beliau terhadap sesuatu yang tersembunyi menimbulkan kekaguman kepadaku akan kkondisi spiritual yang telah beliau capai.

Sejak saat itu aku selalu mengikutinya, mencintainya dan emlayaninya. Dari keajdian tersebut aku mengetahui keluasan berkah beliau”. Al-Jaba’I berkata, “ketika mendengar kitab Haliyatul Auliya’ oleh ibnu Nashir, terbetik dalam hatiku untuk berkontemplasi, menjauhkan diri dari manusia dan menyibukkan diri beribadah. Saat shalat Ashar, aku berjama’ah bersama Syaikh Abdul Qadir. Selesai shalat beliau melihat ke arahku dan berkata, ‘jika engkau benar-benar ingin berkontemplasi (khalwat), maka jangan lakukan itu sebelum engkau benar-benar menguasai agama, bergaul dengan para Syaikh dan belajar dari mereka. Saat itulah engkau boleh berkontemplasi (khalwat). Jika engkau tidak melakukan itu maka engkau akan terputus sebelum engkau menjadi ahli dalam bidang agama. Engkau juga akan merasa bangga atas apa yang engkau miliki.

Tapi ketika ada masalah agama yang engkau tidak ketahui, engkau akan keluar dari zawiyahmu dan bertanya kepada orang-orang tentang hal tersebut. Sebaik-baik kontemplator (orang yang berkhalwat) adalah mereka yang bagaikan lilin, amemberikan penerangn dengan cahayanya”. Syaikh Abu Abbas Al-Khidr Al-Husain Al-Maushuli meriwayatkan, “pada suatu malam, saat kami sedang berada di madrasah Syaikh Abdul Qadir, datanglah khalifah AL-Mustanjid biLlah Abu Mudzaffar Yusuf bin Al-Imam Al-Muftaqi li amriLlah Abu AbduLlah Muhammad Ad-Dabbas. Beliau mengucapkan salam kepada sang Syaikh dan memohon nasihatnya sambil meletakkan 10 kantung uang yang dipikul oleh 10 orang budak. Syaikh berkata, “Aku tidak membutuhkan ahrta ini”. Namun sang Imam berkeraas agar Syaikh Abdul Qadir menerimanya. Syaikh Abdul Qadir kemudian mengambil 2 kantung uang yang paling besar dan paling berat lalu memeras keduanya dengan tangan beliau, maka mengalirlah darah. Berkatalah Syaikh kepada Khalifah, ‘Mudzafar, engkau peras darah rakyat lalu engkau berikan kepadaku. Tidakkah engkau malu kepada Allah ?’.

sang khalifahpun pigsan mendengar hal tersebut. Kemudian sang Syaikh emlanjutkan, ‘Kalau buan karena rasa hormatku kepada garis keturunannya dengan RasuluLlah SAW, akan aku biarkan darah tersebut mengalir hingga pintu istananya’. Syaikh Abu Hasan Ali Al-Quraisy berkata, “saat aku menghadiri salah satu majlis sang Syaikh tahun 559 H datanglah rombongan golongnan rafidah membawa dua buah keranjang tertutup dan berkata kepada beliau, ‘Beritahu kami apa isi dua keranjang ini’. Beliau turun dari kursi dan mengulurkan tangannya memegang salah satu keranjang tersebut dan berkata, ‘Yang ini berisi anak yang lumpuh’. Lalu beliaiu memerintahkan puteranya Abdurrazaq membuka keranjang tersebut dan isinya seperti yang beliau ucapkan. Beliau pegang kaki anak tersebut kemudian berkata, ‘Bankitlah dengan ijin Allah’.

Seketika anak tersebut bangkit. Kemudian beliau memegang keranjang yang lain dan berkata, “keranjang ini berisi anak yang sehat dan tidak cacat’. Ketiak keranjang tersebut dibuka, maka keluarlah seorang anak yang sehat, sang Syaikh memegang ubun-ubunnya dan berkata, ‘Duduklah’. Seketika itu pula anak tersebut menjadi lumpuh. Rombongan rafidah tersebut bertobat di hadapan beliau dan pada saat itu 3 orang meninggal dunia’. Diriwayatkan, dari Yahya bin Junah Al-Adib bahwasanya beliau berkata, “Dalam hati aku berkata”.

‘Aku ingin menghitung berapa banyak sang Syaikh melantunkan sya’ir di dalam majlisnya dengan menggunakan benang dari pakaianku. Akupun kemudian menghadiri majlis pengajiannya dan setiap beliau melantunkan sya’ir maka aku ikatkan benang di bawah pakaianku. Ditengah-tengah beliau bersya’ir tiba tiba beliau berkata, ‘Aku melepaskan ikatan sedang engkau mengikatnya’”. Syaikh Abu Hasan (Ibnu Syathantah) Al-Baghdadi berkata, “Saat aku belajar kepada sang Syaikh, aku sering berjaag di malam hari untuk melayani beliau. Pada suatu malam di bulan Shafar tahun 553 H, aku melihat beliau keluar dari ruangannya. Akupun menyodorkan tempat air untuk berwudhu kepada beliau namun beliau tidak mempedulikan tawaranku dan terus bergerak menuju pintu madrasah. Kemdian beliau memberi isyarat kepada pintu madrasah tersebut maka pintu itupun terbuka dengan sendirinya. Kemudian beliau terus berjalan keluar sementara aku mengikutinya dari belakang.

Aku berkata dalam hatiku bahwa beliau tidak mengetahui kalau aku ikuti dari belakang. Beliau terus berjalan ke arah pintu gerbang kota Bagdad, maka beliaupun memberikan isyarat kepada pintu tersebut dan pintu itupun terbuka dengan sendirinya. Kami terus berjalan, namun tak berapa lama tibalah kami di suatu tempat semacam ribath yang sama sekali tidak aku ketahui. Di dalam ribath tersebut terdapat 6 orang yang sedang duduk, dan ketika mereka mengetahui kedatangan Syaikh Abdul Qadir maka merekapun segera menyambut beliau seraya mengucapkan salam. Aku segera pergi ke sudut bangunan tersebut dan dari dalam bangunan terdengarlah suara dengungan dan rintihan.

Tak berapa lama, suara tersebut berhenti , kemudian seorang pria masuk ke dalam ruangan yang tadi terdengar rintihan lalu keluar dengan membawa seseorang di atas pundaknya. Setelah itu seseorang yang tidak mengenakan sesuatu di kepalanya dengahn kumis yang lebat masuk dan duduk di hadapan sang Syaikh dan kemudian mengambil dua kalimah syahadah dari beliau kemudian memotong kumis serta rambutnya. Setelah itu beliau kenakan thaqiyah (topi) di kepalanya dan memberikan nama Muhammad kepadanya serta berkat kepada yang lain, ‘Aku telah diperintahkan untuk menjadikannya sebagai ganti dari yang meninggal’. ‘Kami mendengar dan patuh’ jawab yang lain. Baliau lalu keluar dari ruangan tersebut seraya meninggalkan mereka. Setelah itu beliau berjalan dan tak lama kami tiba di pintu gerbang kota Baghdad.

Pintu tersebut kembali terbuka dan menutup dengan sendirinya setelah kami melewatinya. Demikian juga tak berapa lama kami tiba di Madrasah kemudian memasukinya. Keesokan harinya aku mohon kepada sang Syaikh untuk menceritakan apa yang aku lihat. Maka beliaupun menjawab, “Adapun negeri yang kita datang kemarin adalah negeri Nahawand. Enam oran yang engkau lihat adalah para wali abdal dan suara dengungan yang engkau dengar adalah wali yang ke tujuh. Dia sedang sakit dan aku hadir di sana untuk melayatinya.

Adapun orang yang aku ambil syahadatnya adalah seorang nashrani dari Konstantinopel dan aku perintahkan ia untuk menjadi ganti ari si mayit. Adapun orang yang masuk dan keluar sambil menggendong jenasah adalah Abul Abbas Al-Khidhir AS yang diperintah Allah untuk mengurus jenasah wali yang wafat”. Kemudian beliau mengambil sumpahku untuk tidak menceritakan peristiwa tersebut selama beliau masih hidup. Beliau berkata, “Takutlah kamu untuk tidak membuka rahasia ini selama aku masih hidup”. Abu Sa’id AbdulLah bin Ahmad bin Ali Al-Baghdadi Al-Azji bercerita, “Pada tahun 537 H anak perempuanku seorang perawan berusia 16 tahun naik ke atas atap rumahku dan kemudian hilang. Akupun pergi menghadap Syaikh Abdul Qadir dan menceritakan hal tersebut. Beliau berkata kepadaku, “Pergilah ke pegunungan Al-Karh. Duduklah di puncak ke lima dan buatlah tanda lingkaran di sekitarmu sambil berkata, ‘BismiLlaahiRrahmaanirRahiim, atas niat Syaikh Abdul Qadir.

Nanti ketika hari mulai gelap akan banyak jin yang melewatimu. Mereka tidak akan dapat menyakitimu. Pada waktu sahur, raja raja mereka akan lewat beserta bala tentaranya dan mereka akan menanyakan maksud kedatanganmu. Saat itulah ceritakan kepada mereka perihal anakmu’. Akupun melaksanakan perintah tersebut. Ketika hari muali gelap, geromblan jin dengan bentuk yang sangat menakutkan namun mereka tidak dapat menyakitiku atau menggangguku.

Gerombolan demi gerombolan terus berlalu hingga waktu sahur datanglah raja mereka dengan mengendarai seekor kuda dan berdiri di luar lingkaran menghadap ke arahku. Dia berkata, ‘hai manusia apa keperluanmu’. “Syaikh Abdul Qadir mengutusku kepadamu”. Jawabku. Begitu mendengar nama Syaikh Abdul Qadir maka raja jin tersebut turun dari kudanya mencium tanah dan duduk, begitu pula dengan para jin lain yang menyertainya. Kemudian ia berkata, ‘apa yang terjadi pada dirimu ?’. akupun menceritakan kepada mereka aka kisah puteriku yang hilang. Setelah mendengar penuturanku, dia berkata kepada para jin, ‘Siapa yang melakukan ini’. Tidak ada satu jinpun yang mengakuinya. Lalu datanglah seorang jin bersama anakku.

Sang raja berkata, ‘ini adalah pembangkang dari negeri cina’. ‘apa yang mendorongmu berani melakukan hal ini di bawah atap sang qutb ?’. tanyanya kepada jin tersebut. Jin tersebut berkata, ‘perempuan tersebut menarik hatiku dan aku mencintainya’. Sang raja kemudian memerintahkan jin tersebut untuk dipenggal kepalanya dan menyerahkan anakku kembali. Aku berkata kepadanya, ‘Aku belumpernah melihat jin dengan derajad tinggi sepertimu memenuhi perintah Syaikh Abdul Qadir’. Dia berkata, ‘Benar, dari rumahnya beliau memandang kepada jin pembangkang yang pada waktu itu berada di dasar bumi.kewibawaannya membuat para pembangkang tersebut kembali ke tempat mereka. Sesungguhnya jika Allah mengangkat seorang Qutb maka Dia akan menjadikannya sebagai Qutb diantara jin dan manusia’.


23.1.10

kongkow bareng gusdur





bonek berulah...lagi!!! piss bro



courtesy JP





MURID-MURID SYEKH KHOLIL
“Hampir ulama besar di Madura dan Jawa adalah murid Kiai Kholil. Selain itu, murid Kiai Kholil rata-rata berumur panjang, banyak diatas 100 tahun. Berikut ini sebagian murid Kiai Kholil yang mudah dikenal saat ini :

1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional.

2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.

3.KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).

4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.

5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah

6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.

7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.

8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.

9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.

10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.

11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.

12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.

13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.

14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.

15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan

16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.

17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.

18. KH. Manaf Abdul karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.

21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.

22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.

23. KH. Zainudin : Nganjuk

24. KH. Maksum : Lasem

25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung

26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.

27. KH. Munajad : Kertosono

28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang

29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang

30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura

31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi

32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.

33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso

34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat

35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik

36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.”[2][*]

dari berbagai sumber

12.1.10

Gus dur pernah menggarap album sholawat looo...


Gus dur pernah menggarap album sholawat looo...

Dalam album Kepasrahan tersebut, mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mencoba berduet bareng Heydie dalam satu lagu berjudul "Kepasrahan" atau "Al-I'tirof". Lagu itu kurang lebih menggambarkan kepasrahan seorang manusia yang sangat berdosa dan merasa tidak bisa berbuat kebaikan.

Coba simak sepenggal syairnya: "Wahai Tuhan, sesungguhnya aku tak layak menerima berkah surga-Mu yang suci namun aku tak ingin pula menerima adzab-Mu yang mahapedih lagi kekal. Wahai Tuhan, ampunilah diri ini dari dosa dan bahaya diri sendiri. Wahai Tuhan dengarkanlah ratap tangis dari makhluk-Mu yang hina dia."

Sepuluh lagu dalam album indie label yang disebut Heydie sebagai "proyek lillahi ta'ala" tersebut, semuanya diiringi dengan musik house. Tujuannya, menyosialisasikan shalawat sehingga bisa dinikmati semua lapisan masyarakat, termasuk para pecandu hiburan malam.

"Musik house sengaja saya pilih untuk menjembatani atau memudahkan mereka pesan-pesan Ilahi melalui shalawat. Saya menilai, shalawat bukan monopoli kelompok elite agama semata. Orang-orang diskotek, pub, bahkan lokalisasi juga berhak menerima pesan-pesan-Nya," papar Heydie.

Semua urusan aransemen vokal dikerjakan Heydie sendiri namun program musik dipercayakan kepada Fendi, Edi, plus Andi pada gitar akustik. Seperti apa konsep musik baru yang ditawarkan Heydie, kita tunggu saja peredaran kasetnya di pasaran, 4 Agustus mendatang (Asep BS-79)

8.1.10

Gusdur : Cepat mana Kereta api Vs Pesawat...?




Setelah mendapat larangan dari dokternya untuk tidak melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat terbang, Gus Dur kemudian nekat untuk berpergian jauh menggunakan kereta api.

"Anda mau pergi naik kerata api Gus? Memangnya Anda pikir bisa sampai tepat waktu dengan naik kereta api?" ledek si dokter.

"Anda jangan meremehkan, kereta itu cepet banget loh!" jawab mantan Presiden RI ke-4 itu.

"Kereta api mana yang bisa menandingi kecepatan pesawat terbang?" tanya dokter.

"Oho.. Anda jangan salah. Semua kereta api bisa lebih cepat dari pesawat," kilah pria kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 ini.

"Anda mimpi kali. Semua orang juga tahu kalau pesawat itu jelas lebih cepat dibandingkan kereta api," cecar sang dokter.

"Wah, Anda salah. Memang sekarang ini pesawat lebih cepat. Tapi itu karena kereta api baru bisa merangkak. Coba kalau kereta api nanti sudah bisa berdiri dan bisa lari. Wuiih.. pasti bakalan jauh lebih cepat dari pesawat," jawab Gus Dur, disambut wajah kecut sang dokter. (rhs)

7.1.10

Siapakah tokoh idola Gus Dur ?



Siapakah tokoh idola Gus Dur ? Di kalangan manusia betulan,
salah satunya adalah Mahatma Gandhi, seperti sering ia kemukakan.

Tapidia juga punya tokoh idola dari dunia pewayangan, yaitu Kumbakarna -
mungkin karena ia merasa tokoh ini banyak kemiripan dengan dirinya
(sama-sama suka tidur).

Gus Dur mengungkapkan hal itu di Yogyakarta, di depan 26
gubernur seluruh Indonesia, ketika mencanangkan program "Pariwisata dan
Kesenian Peduli Kepentingan Rakyat".

"Salah satu tokoh wayang yang paling saya senangi sebagai tokoh
panutan ialah Kumbakarna, adik Rahwana raja Alengka."
Menurut Gus Dur, Kumbakarna itu "kerjanya tidur saja," dan tidak mau
mengurusi masalah penculikan Dewi Shinta.

"Tapi, ketika Rama (suami Shinta) menyerbu Alengka, yang
mempertahankan negeri itu adalah Kumbakarna, si tukang tidur itu. Dia
mengenakan kain putih, lalu maju ke medan laga untuk mati di tangan
kera-kera. Artinya apa ? Walaupun kelihatannya tukang tidur, tetapi dia
orang yang berani mendarma-baktikan diri untuk kepentingan negara."

Gus Dur melanjutkan : "Makanya saya seneng dengan contoh itu.
Kalau bongso Arjuna, lha tampang saya jelek gini kok...."

3.1.10

Makam K.H. Abduraahman Wahid masih dibanjiri ribuan peziarah, Monggo Ziaroh !!!



JOMBANG, KOMPAS.com- Hingga hari ketiga setelah pemakaman, Sabtu (2/1/2010), alias Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Cukir, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, masih dibanjiri ribuan peziarah.

Hingga Sabtu malam, massa secara bergelombang mendatangi pusara mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu. Bahkan, di antara mereka ada yang sampai menginap hingga hari ketujuh pemakaman Gus Dur yang terhitung sejak Kamis (31/12) lalu itu.

Selain berziarah, sebagian di antara mereka juga mengikuti tahlil yang digelar pada malam hari di masjid pondok pesantren itu. "Kebetulan sekarang tahlil hari ketiga. Makanya saya datang kemari," kata Khusna, peziarah asal Ngunut, Kabupaten Tulungagung.

Dibandingkan dua hari sebelumnya, tahlilan untuk Gus Dur pada hari ketiga itu jauh lebih ramai. Bahkan, pihak Ponpes Tebuireng sempat kewalahan menertibkan para peziarah yang datang ke makam Gus Dur untuk tujuan tertentu, misalnya mengambil tanah kuburan atau benda-benda lain.

Melalui alat pelantang suara, pengurus PP Tebuireng mengingatkan para peziarah untuk tidak berbuat hal-hal di luar kewajaran. "Tolong Bapak dan Ibu untuk tidak membawa sesuatu dari makam, karena di situ juga ada makam Hadratus Syeikh (Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur sekaligus pendiri NU) dan makam K.H. Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur)," kata seorang pengurus melalui pelantang suara.

Hal itu diucapkannya berkali-kali karena banyak di antara peziarah yang berdesak-desakan sehingga menginjak tanah makam K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahid Hasyim, K.H. Yusuf Hasyim (paman Gus Dur), dan keturunan Bani Hasyim lainnya.

Gus Dur meninggal dunia di RSCM Jakarta, Rabu (30/12) malam, dan jenazahnya dimakamkan di PP Tebuireng melalui upacara kenegaraan yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis (31/12) sore

29.11.09

HASIL UJIAN PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH (CPNSD) PEMERINTAH KOTA MALANG TAHUN ANGGARAN 2009



WALIKOTA MALANG

PENGUMUMAN

NOMOR 4 TAHUN 2009

TENTANG

HASIL UJIAN PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH (CPNSD)

PEMERINTAH KOTA MALANG TAHUN ANGGARAN 2009

Berdasarkan Keputusan Walikota Malang Nomor : 188.45/341/35.73.403/2009 tanggal

26 Nopember 2009 tentang Penetapan Nama-Nama yang Dinyatakan Lulus pada Ujian Penerimaan

Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) Pemerintah Kota Malang Tahun Anggaran 2009, bersama ini

disampaikan bahwa Peserta Ujian yang dinyatakan LULUS pada Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil

Pemerintah Kota Malang Tahun Anggaran 2009 adalah sebagaimana daftar nama terlampir.

Kepada peserta ujian yang dinyatakan lulus, agar segera melapor dan melengkapi

persyaratan yang diperlukan ke :

Badan Kepegawaian Daerah Kota Malang

Jl. Tugu Nomor 1 Malang 65119

Telepon (0341) 328829

Mulai tanggal 7 s.d. 10 Desember 2009 pukul 09.00 s.d. 15.00 WIB.

Adapun persyaratan yang harus dilengkapi adalah :

1. 3 (tiga) lembar fotocopy ijazah/STTB yang telah dilegalisir sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan;

2. 3 (tiga) lembar fotocopy akta mengajar yang telah dilegalisir sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan (khusus tenaga guru);

3. 3 (tiga) lembar fotocopy akta profesi yang telah dilegalisir sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan (khusus dokter gigi dan apoteker);

4. 3 (tiga) set daftar riwayat hidup yang ditulis tangan sendiri memakai huruf kapital/balok, tinta hitam

dan ditandatangani, sesuai dengan Keputusan Kepala BKN Nomor 11 Tahun 2002;

5. 3 (tiga) lembar surat pernyataan yang ditulis tangan sendiri memakai huruf kapital/balok, tinta hitam

dan ditandatangani di atas materei Rp. 6000,- sesuai dengan Keputusan Kepala BKN Nomor 11 Tahun

2002;

6. 3 (tiga) lembar fotocopy surat bukti pengalaman kerja yang telah dilegalisir (bagi yang berusia di atas

35 tahun);

7. 1 (satu) lembar asli dan 2 (dua) lembar fotocopy Surat Keterangan Berbadan Sehat yang dikeluarkan

oleh Dokter Pemerintah yang telah dilegalisir;

8. 1 (satu) lembar asli dan 2 (dua) lembar fotocopy Surat Keterangan Bebas Narkoba dari Kepolisian

Wilayah Setempat yang telah dilegalisir;

9. 1 (satu) lembar asli dan 2 (dua) lembar fotocopy Surat Keterangan Catatan Kepolisian dari Kepolisian

Resor Setempat yang telah dilegalisir;

10. Pas Foto hitam putih terbaru ukuran 3 x 4 sebanyak 6 (enam) lembar.

Blanko Daftar Riwayat Hidup dan Surat Pernyataan sebagaimana dimaksud pada angka 4

(empat) dan angka 5 (lima) dapat diperoleh di Badan Kepegawaian Daerah Kota Malang sesuai jadwal

pemberkasan.

Pengumuman Hasil Ujian Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Kota Malang

Tahun Anggaran 2009 ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Demikian untuk menjadikan perhatian dan pelaksanaannya.

Ditetapkan di Malang

pada tanggal 26 Nopember 2009

2

LAMPIRAN KEPUTUSAN WALIKOTA

MALANG

NOMOR : 4 Tahun 2009

TANGGAL : 26 Nopember 2009

DAFTAR NAMA PESERTA UJIAN YANG DINYATAKAN LULUS

PADA PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH (CPNSD)

PEMERINTAH KOTA MALANG TAHUN ANGGARAN 2009


NO. NO UJIAN NAMA NILAI

TENAGA GURU

1 01-101-202-0319 IING FAJAR WAHYUNI 60

2 01-101-202-0568 IKE HASTUTI NINGTYAS 58.6

3 01-101-202-0216 SILVIA PUTRI A W 57.5

4 01-101-202-0600 YENI PUJIASTUTI 57.5

5 01-101-202-0291 DHINA HESTUNINGSIH 55.8

6 01-101-202-0472 NIKEN DWI HAPSARI 55.5

7 01-101-202-0537 RENNY FITRIA 53.9

8 01-101-202-0674 SULISTYANINGSIH 53.9

9 01-101-202-0172 WIWIT SUNARTI 52.9

10 01-101-202-0251 YUYUN WAHYUNI 52.8

11 01-101-202-0478 KHUSNUL KHOTIMAH 52.8

12 01-101-202-0556 TANTI YULITA 52.3

13 01-101-202-0245 MARIA YULIANI 52.1

14 01-101-202-0390 YULISTIN PURWANING W 51.8

15 01-101-202-0006 FITRIAH PUSPITA N 51.5

16 01-101-202-0131 MASNINGRUM RETNOSARI 51.3

17 01-101-202-0316 ENDANG RATNAWATI 51.2

1 01-102-449-0003 HENY FARIDA 49

2 01-102-449-0002 MUDRIKAWATI 38.3

3 01-102-449-0001 PRISKA PALUPI H 36

4 01-102-449-0004 YANIK ENDRAWATI K W 35.2

1 01-201-201-0081 CATUR AHMAD MUTAQIN 36.7

2 01-201-201-0271 IKADIA NOVITA K 36.7

3 01-201-201-0136 LIA NITA 36.5

4 01-201-201-0147 SUPRIYADI 36.3

5 01-201-201-0449 ROKHMATULLOH 36.2

6 01-201-201-0090 RENY DYAH KURNIAWATI 35.9

7 01-201-201-0156 ARISMA DYAH N 35.8

8 01-201-201-0047 TINA SUSANTI 35.65

9 01-201-201-0549 BINTI HAFIDLOH 35.35

10 01-201-201-0102 IRWIN HIDAYATI 35.1

11 01-201-201-0079 EKO SLAMET WAHYUDI A 34.9

12 01-201-201-0160 TRI SUSILOWATI 34.75

13 01-201-201-0048 SAMSON RISANG HERO W 34.7

14 01-201-201-0560 IRA KUSTIYAWAT 34.5

15 01-201-201-0007 KHUSNUL KHOTIMAH 34.3

16 01-201-201-0009 MUH ANDI MAHFUDIN 34.3

17 01-201-201-0029 EVI DIANITA 34.3

18 01-201-201-0038 VIKY IKA C 34.3

19 01-201-201-0405 DYAH RAHMAWATI W 34.3

20 01-201-201-0502 YENI ASARI 34.3

21 01-201-201-0565 DINA ARI KUSUMA WATI 34.3

22 01-201-201-0566 SETIANINGSIH 34.3

23 01-201-201-0569 NURIYATI WIJIL 34.3

24 01-201-201-0573 SULISTYO ASIH 34.3

3

25 01-201-201-0575 INDRA SETIA AGUNG P 34.3

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

26 01-201-201-0580 SITI MAYA SAROH 34.3

27 01-201-201-0587 LUKY SUDARMONO 34.3

28 01-201-201-0591 JULIATI 34.3

29 01-201-201-0594 SURYO ADI WIDIANTO 34.3

30 01-201-201-0596 SUPRIADI 34.3

31 01-201-201-0602 NINIK LUSIANAWATI 34.3

32 01-201-201-0609 AGUNG KRISTIONO 34.3

33 01-201-201-0610 ARDYA GARINI 34.3

34 01-201-201-0614 DHIMAS ARI PRABOWO 34.3

35 01-201-201-0615 IKA YULI PURWANTI 34.3

36 01-201-201-0629 TONI ZUNAEDI 34.3

37 01-201-201-0633 RENI KRISNIAWATI 34.3

38 01-201-201-0634 SUMARTI 34.3

39 01-201-201-0698 SEMIN RUDI HARTONO 34.3

40 01-201-201-0702 YANTI KUSTININGRUM 34.3

41 01-201-201-0769 DEWI SEPTI MARIA 34.3

42 01-201-201-0778 IVA NUR AINI 34.3

43 01-201-201-0838 SETO BUDI HARTANTO 34.3

44 01-201-201-0900 SUCI BUDI RAHAYU 34.3

45 01-201-201-0945 EVI TRIMARDIANA 34.3

46 01-201-201-0969 DENIK ARDINAWATI 34.3

47 01-201-201-1075 SUNANDAR 34.3

48 01-201-201-1081 NITA PURWANINGSIH 34.3

49 01-201-201-1095 YULISTIYA DIAH FW 34.3

50 01-201-201-1108 DEVI MARINI 34.3

51 01-201-201-1120 GALUH SETYO ARINI 34.3

52 01-201-201-1134 M LUQMAN HAKIM 34.3

53 01-201-201-1178 MURI YULIANTO 34.3

54 01-201-201-0146 MESENO 34.1

55 01-201-201-0474 SULISTYORINI 34.1

56 01-201-201-0545 WIWIED SUPRAYOGI 34.1

57 01-201-201-0398 ARUM DWI ROESWI A 34.1

58 01-201-201-0558 NINIK KRISTIANI 34.1

1 01-202-448-0062 RENI KURNIAWATI 53.6

2 01-202-448-0052 IMROATUL MUFIDAH 52.7

3 01-202-448-0002 HALIMATU SYA DIAH 52.5

4 01-202-448-0006 DWI NUR SAMSYUDIN 52.5

5 01-202-448-0016 INDAH SUKOWATI 52.3

6 01-202-448-0030 AULINA MAGHFIROH 51.5

7 01-202-448-0064 SETIAWATI 51.5

8 01-202-448-0049 DEWI URIFAH 51

9 01-202-448-0051 ASRI SEPTYAN PRATIWI 51

10 01-202-448-0057 MARTINI DWI PURNAMA 51

11 01-202-448-0078 ERI TRI MURTINI 50.2

12 01-202-448-0004 SITI UMAYANAH 49.8

13 01-202-448-0065 TITIS PRATIWI 49.6

14 01-202-448-0082 NOVIN SURYONO 49.6

15 01-202-448-0038 INAYATUL MAULA 49.3

16 01-202-448-0001 NEVI SUTARTI 48.5

17 01-202-448-0058 TRI SUSILOWATI 48.2

18 01-202-448-0072 ENDAH MUKHLISTYA 47.7

19 01-202-448-0028 ROICHATUL JANNAH 47.6

20 01-202-448-0061 NOFITA PUTRANTI K 47.5

21 01-202-448-0054 RENI DWI KRISTANTI 47.4

22 01-202-448-0026 WIDIANARKO 46.8

23 01-202-448-0041 AAN EKO CAHYO Y 46.5

24 01-202-448-0084 NOVI QURRATU AYUNIN 46.5

4

25 01-202-448-0003 ININ MARIFAH 46

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

26 01-202-448-0080 NUR FARIDAH 45.6

27 01-202-448-0070 NITA RETNO W 45.5

28 01-202-448-0076 WIDO SUMARNO 45.5

29 01-202-448-0017 DWI MA RIFATIKA 44.7

30 01-202-448-0040 LAILUL INDRAWATI 44.4

31 01-202-448-0063 ARIE IKAYANTI 44.4

32 01-202-448-0011 NURUL QOMARIYAH 44.3

33 01-202-448-0034 FLORENTINA M P 44.2

34 01-202-448-0045 DESFITA AGUSTINA 43.7

35 01-202-448-0053 DIAN PURANA SARI 43.7

36 01-202-448-0081 MOH FAISHAL 43.6

37 01-202-448-0036 FITRI WULANDARI 43.3

38 01-202-448-0059 HARI SUPRAYOGO 43.1

39 01-202-448-0048 ERNA WATI 42.8

40 01-202-448-0043 ANNA DWI ISTIANTI 42.6

41 01-202-448-0085 RINA KUSUMAWATI 42.4

42 01-202-448-0013 MEIARINI PRIASTUTI 42.3

43 01-202-448-0009 AGISTY NIRMALASARI R 42.1

44 01-202-448-0008 SRI WAHYUNI 42

45 01-202-448-0079 DYAH AYU PERTIWI 41.9

1 01-203-432-0003 SUGENG PRASETIYO 55.45

2 01-203-432-0001 MOHAMMAD MAKHIN 54.95

3 01-203-432-0040 NOVA INDRAWATI 54.3

4 01-203-432-0036 JUWITA EMLINA PUTRI 53.1

5 01-203-432-0034 ACHMAD MUNIR 48.1

6 01-203-432-0062 ENDRO YUDHO S 46.8

7 01-203-432-0006 RANGGA ARDIA PUTRA 46.2

8 01-203-432-0098 NANING SUPRIATIN 46

9 01-203-432-0010 IRAWAN BAGUS SATRIYO 45.6

10 01-203-432-0024 PURWANTO 45.5

11 01-203-432-0108 WISNU ADI BRATA 45.4

12 01-203-432-0014 ACHMAD MUALIMIN 45.3

13 01-203-432-0026 SLAMET MULYONO 45.3

14 01-203-432-0004 KASMULYONO 44.5

15 01-203-432-0022 BONDA ARIANSYAH R 44.4

16 01-203-432-0086 YOYOK SAIFUL EFENDI 44.4

17 01-203-432-0079 M ZAKI BASARI 44.3

18 01-203-432-0012 DWI UTOMO S 43.8

19 01-203-432-0112 ANDREAN AGUNG TRIMUL 43.8

20 01-203-432-0113 JAFAR SODIQ 43.8

21 01-203-432-0096 CATUR AGUNG WIDODO 43.6

22 01-203-432-0090 ENY TRI HERMIATI 43.4

23 01-203-432-0097 BAYU SANTOSO 42.8

24 01-203-432-0072 RENDRA ADITIA 42.7

25 01-203-432-0064 NATALINA IRMIYANTI S 42.6

26 01-203-432-0008 BUYUNG PRAYOGA 42.1

27 01-203-432-0013 LINDA JUNI LESTARI 41.6

28 01-203-432-0057 IKE DAHNIA 41.5

1 01-204-430-0024 ASTUTIK 49.8

2 01-204-430-0026 NURUL BALQIS 48.7

3 01-204-430-0002 FINA RISWARI 46.9

4 01-204-430-0027 WIWIN SRI WILUJENG 46.2

5 01-204-430-0015 UCIK BUDI SISWATI 45.9

1 01-302-462-0001 NATALINA WAHYU S 52.5

2 01-302-462-0002 ASMANIATUL JANNAH 51.6

5

3 01-302-462-0004 AGUNG BUDIANTO 45.4

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

4 01-302-462-0005 IMAM THANTHOWI 30.8

5 01-302-462-0003 KRISTIN ERMAWATI 28.9

1 01-303-417-0044 NUR PUDI EKO S 51.8

2 01-303-417-0095 ZULFA HIDAYATI 51.1

3 01-303-417-0056 NURUL QOMARIYAH 50.8

1 01-304-418-0015 HENIKA RATNA SARI 49.6

2 01-304-418-0012 M AFRI SURAHMAN 48.3

3 01-304-418-0002 ILHAM WAHYU HIDAYAT 46.3

4 01-304-418-0011 FELA PRIHANDI SC 46.2

5 01-304-418-0007 ASIH RAHAYU 45.6

6 01-304-418-0008 ARIF IRFAN FAUZI 45.3

7 01-304-418-0013 MUHAMAD YASIN 44.4

8 01-304-418-0004 HASTIN DIANAWATI 44.1

1 01-305-419-0008 DEWI ASIYAH 51.8

2 01-305-419-0007 FINA MULIANASTITI 51.45

3 01-305-419-0103 SUYANTO SPD 51.1

4 01-305-419-0080 AGUS WIDJAJANTO 50

1 01-306-420-0014 RETNO PUSPITA 59.4

2 01-306-420-0108 ANIK SOLIKAH 58.8

3 01-306-420-0052 FITRI HANDAYANI 58.7

4 01-306-420-0100 ERFIET YONANTA 57.05

5 01-306-420-0048 ESTU MAHANANI 57

6 01-306-420-0066 ENIK EVI INDAHWATI 54.3

1 01-307-422-0014 HADI TRI ROCHMAD 52.1

2 01-307-422-0022 NINING PUJIATI 51.3

3 01-307-422-0005 ERNY EKA WULANDARI 47.3

4 01-307-422-0026 DINA ELISA 47.2

5 01-307-422-0012 FARIDA ARIANI 47.1

6 01-307-422-0036 ANNA AISYIYAH 46.5

1 01-308-423-0034 BUDI SETIYAWAN 54.25

2 01-308-423-0014 KRISTIN SITI R F 53.2

3 01-308-423-0062 LINA SET ANINGRUM 53.2

1 01-309-424-0090 KARUNIA INDAYAR I 46.8

2 01-309-424-0120 RATNA NOVITAYATI 46.4

3 01-309-424-0107 ULYA BRILIAN 46

4 01-309-424-0114 SUYATI 46

1 01-310-425-0042 GAGUK YULISTIADI 52.6

2 01-310-425-0005 NARWATIN 51.45

3 01-310-425-0017 TRI MARYATI 51.45

4 01-310-425-0076 IKA RAHMANIA 50.4

1 01-311-428-0002 FITRI FADZIATUL AZMI 47.9

2 01-311-428-0026 ADI KURNIAWAN 45.5

3 01-311-428-0031 UTARI DIAN PALUPI 45.2

1 01-312-430-0001 NOVITA NUR SAMIADI 32.9

1 01-313-431-0020 AULIA DIAN PUSPITA H 57.6

2 01-313-431-0024 DIAN EKO CHRISTIAWAN 55.7

6

1 01-314-434-0077 ASYIH WITAYATI 31.6

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

2 01-314-434-0028 SADIYA NUR AINI 30.8

3 01-314-434-0034 TITIEN PRASETIA WATI 30.7

1 01-401-463-0014 AMALIA SUFA 49.5

2 01-401-463-0016 ARIFUDIN ZUHRI 47.7

3 01-401-463-0010 LINA NUR AINI 45

4 01-401-463-0005 NANANG WAHYUDIANTO 43.9

5 01-401-463-0020 SOFI ARIANTO 42.5

6 01-401-463-0001 PRAYOGI ADINOTO 42.3

7 01-401-463-0006 ARIEF RIZQI ANSYAH 41.7

8 01-401-463-0019 AHMAD YUSUF SETIAWAN 40.1

9 01-401-463-0012 YOYOK INDRAWANTO 38.3

10 01-401-463-0004 WARSONO 36.8

1 01-402-419-0028 RETNO PURWANTI 50.4

2 01-402-419-0006 ILMIATUL ULYA 47

3 01-402-419-0014 HENNY KRISTIYANTI 46.2

1 01-403-420-0004 RIDA AFRILYASANTI 50.6

1 01-404-421-0003 EKA FATMAWATI 29.1

1 01-405-423-0068 ANITA K 35

2 01-405-423-0070 LINA HERLINA 33.8

3 01-405-423-0033 NANING WAHYUNI 33.4

1 01-406-425-0002 LIANA PERMATASARI 32

2 01-406-425-0001 RIMTHA Z P 29.9

1 01-407-426-0008 YULKARTIN DIAH L 51.6

2 01-407-426-0043 RATNA RAHMAWATI 49.4

3 01-407-426-0072 ROCHMAD PRIYANTO 48

4 01-407-426-0052 MUHAMMAD LUTHFIANTO 47.8

1 01-408-429-0067 DESAK PUTU AGUNG H 30.1

2 01-408-429-0040 FADILAH UTAMI T 11.7

1 01-409-431-0004 LULUK DWI OKTRIANINGSIH 9.3

1 01-410-432-0002 CHOMSATUL FADILAH 53.5

2 01-410-432-0004 SUTIONO 52.6

1 01-501-465-0002 DEWI HANDAYANI 53.2

1 01-502-458-0004 KUSMADI 51.1

2 01-502-458-0001 MOHAMMAD MAHMUDI 50.8

3 01-502-458-0003 AKTIA ARIGIANA UMAMI 50.5

4 01-502-458-0002 ANDY PRAYOGA 49.6

1 01-503-464-0002 EKA PURWANTO 48.4

2 01-503-464-0003 SRIROHATUL JUMA IDAH 48.4

1 01-504-456-0002 HENKY KURNIA DHANY 57.7

1 01-505-408-0025 ASROFI ALMUHANNAM 44.1

1 01-506-466-0001 DWI AVIANTO 35

7

1 01-507-415-0001 MAHALI 40

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

1 01-508-417-0032 AHSANA AMALA S AG 31.5

2 01-508-417-0034 M ASRORI ARDIANSYAH 30.7

1 01-509-419-0002 DEWI ROHMAH 27.5

2 01-509-419-0025 CHUSNAINI 27

1 01-510-420-0286 SUSILOWATI 60.9

2 01-510-420-0021 WAHYU PRASAJA 58.8

3 01-510-420-0063 ANDRI RETNO YULI ASTUTI 58.8

4 01-510-420-0132 SRI ASTUTIK 58.5

5 01-510-420-0134 MUTLIATUZZUHROH 53.2

6 01-510-420-0124 EDNA AYU INDRIYANI 52.1

7 01-510-420-0129 MUHAMMAD MUCHLISIN 51.3

8 01-510-420-0135 KHOLIFANI UTAMI 51

9 01-510-420-0140 BUDIYANTI 50.6

10 01-510-420-0127 ANIS SOVIANA 50.6

1 01-511-422-0026 PENI ESTINING PALUPI 71.2

2 01-511-422-0013 HERLINA EFFENDI 56.3

3 01-511-422-0025 DODIK BUDI PRASETYO 56.3

4 01-511-422-0014 LALUK SUSMIATI 53.1

5 01-511-422-0005 BAWON ROHMAWATI 51.4

1 01-512-423-0005 ARIF RAHMAN 48.3

2 01-512-423-0028 FIRDAYUNI 48.2

1 01-513-425-0002 OKTAVIA EKO SUSANTI 52.7

2 01-513-425-0012 CATUR WULANDARI 52.5

3 01-513-425-0035 SUSIYANTI 50.9

1 01-516-429-0023 IKA BUDI YULIASTINI 44.8

1 01-517-431-0051 ALIF MASHUDA 47.25

2 01-517-431-0187 IMA KRISTINA 47.25

3 01-517-431-0224 SITI AISYAH 46.55

4 01-517-431-0229 YULIE USRIANE 46.55

5 01-517-431-0194 DYAH ANITA 45.85

6 01-517-431-0084 ENDAH WIDIANTORO 45.5

7 01-517-431-0016 ASTUTIK TALUN NU 44.1

1 01-518-432-0004 IWAN SYOFII 37.1

2 01-518-432-0005 ADDIEN SETYO K 35.7

1 01-519-433-0001 IMAM AGUS SUHENDRA 79.55

1 01-520-435-0003 SRI ERLIANAWATI 76.05

1 01-521-436-0013 NENIE DAHNIAR 75.7

1 01-522-437-0015 TRI PUJI ASTUTI 78.5

1 01-523-438-0050 SLAMET WAHYUDIANTO 101.3

2 01-523-438-0056 RUDY SISWOYO 91.1

1 01-524-439-0018 SAYIT ANWAR 79.9

2 01-524-439-0030 INDRIANI PUSPITA S 79.2

8

1 01-525-439-0016 ADI HAFID KURNIAWAN 84.45

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

2 01-525-439-0017 HENDRIK WAHYUDI 84.1

3 01-525-439-0004 YUSUF HIDAYAT 82

1 01-526-440-0004 ALI HERMAWAN 84.45

1 01-527-442-0001 MAWARLIA 72.2

2 01-527-442-0002 ARI NOVI YUDIANTI 65.9

1 01-528-452-0002 DIAN TRIWULANDARI 91.1

1 01-529-453-0002 IBA MARDHATAMA 87.5

1 01-530-458-0002 WENDY TUTU T 87.1

2 01-530-458-0001 PRIYO ADI NUGROHO 85.3

TENAGA KESEHATAN

1 02-601-302-0007 INNA ZULLAEKHA 94.6

2 02-601-302-0013 WELLY OLIVIA 93.1

1 02-602-304-0003 ROFIUTIN MAULIDA 91.5

2 02-602-304-0040 IKA INDRIATI 90.2

3 02-602-304-0023 RISKA AHSANUNIKMAH 89.9

4 02-602-304-0019 MEILIA RAHMAWATI 89.6

1 02-603-305-0004 SETIORINI 98

2 02-603-305-0084 RIZKA ROMADONA 97.5

3 02-603-305-0049 RODHIYATI BETA RIDHI 97.4

4 02-603-305-0038 FIFIN EKA NURACHMAH 97.3

5 02-603-305-0070 MEILIA KURNIAWATI 97.1

6 02-603-305-0048 ENDAH SUSYANTY 96.9

1 02-604-308-0091 PANDE MADE RESTU S 107.6

2 02-604-308-0012 WIWIN WULANDARI 107.3

3 02-604-308-0017 ONE PUTRI DISTALIA 105.9

4 02-604-308-0205 AJENG DEWI AMBARWATI 105.8

5 02-604-308-0048 LAYLI ADVIANI 105.6

6 02-604-308-0094 ERISTA NISAUL LAILA 105.5

7 02-604-308-0014 SUGIH ARTI 105.3

1 02-605-309-0269 RELA SENJAYANI 125.9

2 02-605-309-0064 EKA WIDIASTUTI 125.5

3 02-605-309-0223 NENENG ANJAR S 124.3

4 02-605-309-0083 YUYUN OKTASARI 96.9

5 02-605-309-0210 MOH TAUFIK 96.3

6 02-605-309-0044 RENNY SEPTINING W 96

7 02-605-309-0002 RIANIATI DAHLAN 95.7

8 02-605-309-0024 FITRI RESTI PRATAMA 95.5

9 02-605-309-0242 DINA AGUSTIN RAHAYU 95.2

1 02-606-311-0008 IMA CHAIRUL AMALA 91.2

2 02-606-311-0002 ANDREAN ASMARA 90.5

3 02-606-311-0004 INDAH FERAWATI 87.5

4 02-606-311-0007 DINA LESTARI 86.7

5 02-606-311-0003 MOCHAMAD NASRULLAH 82.7

1 02-607-414-0004 ERIKA PRAWIDA 90.3

2 02-607-414-0007 FAISA AFIFA 88.6

9

1 02-608-403-0004 ARIF WIRAMUKTI 95.85

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

2 02-608-403-0007 SUKMA PRIMA YUDHA 93.4

1 02-609-412-0014 LINDA HERAWATI 112

2 02-609-412-0006 DINNA INDARTI 99.5

TENAGA TEKNIS

1 03-701-409-0015 MIKAEL URICKOMA 90.15

1 03-702-410-0056 TAUFIK HENDRO J 94.9

2 03-702-410-0070 IKE DANIA PUTRI 93.55

1 03-703-301-0006 FAISAL AMNAN 91.7

2 03-703-301-0010 DWI SULIS SETIOWATI 90.4

1 03-704-407-0126 ACHMAD WIDYA P 112.3

1 03-705-445-0017 RIZDYA OKTOFANI 97.4

1 03-706-405-0004 WIDJANG SUSENO 90.1

1 03-707-459-0026 HERLINA 80.25

1 03-708-401-0016 RONI KURNIAWAN DWI S 92.2

1 03-709-409-0007 EKO WAHYUDI 89.45

2 03-709-409-0004 SUMARNI 87.15

1 03-710-444-0012 DANI MAROE BENI 92.3

1 03-711-410-0010 M IFAN SUSASTRA 99.1

1 03-712-407-0094 JUNAEDI 91.1

1 03-713-307-0001 JULIA SAVITRI 40

2 03-713-307-0002 WULAN WIDYANINGTYAS 40

1 03-714-303-0168 RISKA FEBRIANA 96

2 03-714-303-0131 APRILLIA ANANTHA S 92.4

1 03-715-451-0005 RATIH AULIA ANGGRAENI 89

1 03-716-413-0007 DAVID CAHYA PUTRA 91.85

1 03-717-406-0178 NANOK SUTOMO 98.8

2 03-717-406-0234 VIRA MERDIANA 98.2

1 03-718-450-0021 VITA DWI ANGGARINI 99.15

2 03-718-450-0039 PANDU ZANUAR S 98.1

3 03-718-450-0015 INDHIRA SUHITA 82

1 03-719-455-0083 IMAN PERMANA 103.6

1 03-720-401-0052 EKA YUDHA SUDRAJAD 88.6

1 03-721-447-0029 WIWIN ROIKA INDAYANI 92.45

1 03-722-456-0080 EXVAN FAJAR YAMA B 49.55

10

1 03-723-459-0034 HENDRO LUKY DJATMIKO 61.5

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

1 03-724-459-0019 HENDRA CAHYA UTAMA 59.8

1 03-725-411-0051 RIZKI ARI RAMDHANA 61.1

2 03-725-411-0048 ARISTYA DHANY 59.7

1 03-726-411-0007 TATANG SATYA WIBOWO 55.2

1 03-727-457-0030 NUR RENDI MUSTIKO 51.85

1 03-728-416-0028 YUNITA SUCI AMALIA 61.5

1 03-729-317-0016 SUCI ARINI N 51.8

1 03-730-315-0003 ARIS KRISMIANTO 55.4

1 03-731-461-0067 CHITRA MAHARANNI 57.6

1 03-732-414-0003 INDAH ALARIANI DH 48.9

2 03-732-414-0004 RIA DYAH MILASARI 47.5

1 03-733-407-0005 VINA LESTARI 54.2

2 03-733-407-0085 SITI DJULAIKAH 53.8

1 03-734-410-0052 DEDDY DARMAWANTO 56.7

1 03-735-401-0074 MARIA ULFA 49

1 03-736-443-0053 MOHAMMAD ANAS S 52.05

1 03-737-401-0058 DIAN LIKQS AMELIA 53.9

1 03-738-445-0001 SRI EKAWATI 50.3

1 03-739-446-0007 LASTER NURSANTI 57.2

1 03-740-460-0026 NOVITA FIDYANA 52.7

1 03-741-441-0015 ANDY WIJAYA M 52.55

1 03-742-402-0058 TITIS INDARWATI 52.1

1 03-743-410-0033 ENDY SRI HARTANTO 59.2

1 03-744-313-0016 FITRI SETYAWARDHANI 53.6

1 03-745-410-0042 JOJOH KOTIMATUN S 54.1

2 03-745-410-0052 HADID MANGGALA SOFWAN 53.9

1 03-746-404-0007 INTANIA MAYASARI 51.45

1 03-747-410-0008 CARTER WIRA SUTEJA 51.55

1 03-748-315-0003 TAUFIQUR RAKHMAN 56.8

2 03-748-315-0001 ANITA EKA WIJI A 51.2

1 03-749-450-0007 LENNA KRISWATI 55.1

11

1 03-750-444-0010 ERIK MAULANA SUTIKNO 57.8

NO. NO UJIAN NAMA NILAI

1 03-751-306-0083 AMARTHA SELVIANA 64.8

2 03-751-306-0163 OKNATA DWIZANDI 63.95

3 03-751-306-0228 BASKORO WIDHI W 63.5

4 03-751-306-0134 MUCHAMAD WIDWAN 60

5 03-751-306-0236 MOCHAMAD ARSYAD 58.7

6 03-751-306-0190 KARISHMA YUANITA 58.6

7 03-751-306-0136 IRWAN ASMARANI 58.2

8 03-751-306-0010 JUNAEDI ASMARA 58.1

9 03-751-306-0194 DENOK WIJAYANTI 57.9

10 03-751-306-0059 CHANDRA TRI H 56

1 03-752-411-0104 ARIES AHADI S 65.5

2 03-752-411-0094 PUTU DINA ANDRIANA 64.65

3 03-752-411-0023 AJENG NIRA ZAINIYAH 64.45

4 03-752-411-0179 ZAINAL SHOLICKIN 63.35

5 03-752-411-0133 RHOMAISA ROSYADI 62.7

6 03-752-411-0102 NUGRAHA TRI UTAMA 60.9

1 03-754-319-0067 DEWI RATNA SARI 57.1

1 03-755-310-0011 SUSANA YULLI S 55.8

2 03-755-310-0007 SANTOSO MAHARGONO 52.8

1 03-756-454-0032 ASFA AGUSTINA N A 60.8

1 03-757-459-0015 M WIDHIJONO S 41.3

12